085215115650

Ads

Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Pemimpin Yang Ingkar Janji

Cobalah lihat, betapa seorang Presiden atau Menteri atau Pegawai Tinggi Negara, seketika dia mula menjabat pangkat itu bersumpah bahwa dia akan jujur melaksanakan tugas dan kewajibannya. Sumpah itu disanggupinya dan lantaran itu pangkat dan jabatan tinggi dipikulkan kepada dirinya. Kemudian ternyata janjinya kepada Allah dengan sumpah-nya yang telah diucapkannya itu dilanggarnya. Apakah harga orang seperti ini di sisi Allah? Di dunia dia  boleh sementara waktu duduk di istana yang indah, naik kendaraan yang mahal dan cukup dihormati kemana saja dia pergi. Tetapi tidaklah ada harganya di sisi Allah. Dan dikutuk dilaknat Tuhan di akhirat dan Tuhan tidak akan memandangnya walau sebeleh mata.

Fikirkanlah ini. Ambil kiasnya kepada hidup di dunia. Kalau seorang pembesar negara tidak pernah lagi ditegur-sapa oleh atasannya; adalah itu dipandangnya suatu siksaab batin yang sukar diatasi. Ada menteri yang membunuh diri karena rajanya tidak memandang kepadanya seketika berhadapan. Tidak ada sakit yang lebih sakit dari itu.

Berzina, meminum minuman yang memabukkan, berjudi, mendurhaka kepada kedua orang ibu-bapa, dan lain-lain sebagainya dihitung sebagai KABA-IR, iatu dosa-dosa besar. Tapi tidak ada satu di antara dosa besar itu yang mendapat ancaman sekeras orang memungkiri janji dan mempermudah sumpah ini; sampai tidak akan ditegur-sapa oleh Tuhan, sampai tidak akan dipandang sebelah mata, sampai di biarkan tinggal kotor.

Tepatlah apabila Rasul s.a.w. bersabda tidak memegang amanat sekali-kali tidaklah benar imannya, dan orang yang mempermudah janji untuk dimungkiri tidaklah ada agamanya:

“Tidaklah ada iman pada orang yang tidak ada amanatnya; dan tidak ada agama pada orang yang tidak menghargai jaji.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bazar dan at-Tabrani dari Anas)

Di dalam pergaulan hidup bernegara pun hal ini dapat kita fikirkan. Seorang pemimpin negara pezina atau peminum, hanya dibisik-desuskan orang saja, dan orang masih hormat kepadanya walaupun dosa itu dosa besar. Tetapi kalau dia sudah mempermudah sumpah dan janji, berjanji seribu janji, diteguhi sekali tidak, mulailah rakyat bosan, mulailah jatuh muru’ahnya di hadapan rakyat yang dipimpinnya. Kadang-kadang orangpun tidak sabar lagi, lalu digulingkan orang dia dari kedudukannya, karena membuat jijik dan membosankan. Biar dia pezina, peminum dan pemabuk, masih didiamkan orang. Tetapi kalau dia telah mempermudah sumpah dan janji, telah mulailah dia merugikan masyarakat yang dipimpinnya itu. Dan waktu itu tidak akan dimaafkan orang lagi.

Ketika tafsir ini diperbuat, pemimpin demikian disebut orang PENJUAL KECAP.

(PROF. DR. HAJI ABDUL MALIK ABDUL KARIM AMRULLAH (HAMKA), TAFSIR AL-AZHAR JILID 2 JUZU’ 3, Hal.815-816, PUSTAKA NASIONAL PTE LTD SINGAPURA)

http://risalahperjalanan.wordpress.com/2012/04/10/buya-hamka-ancaman-bagi-pemimpin-ingkar-janji/

Bertobat


Beberapa sahabat pernah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, "Ya Rasulallah, engkau yang menghukum rajam wanita berzina, lalu engkau mensalatinya?" Nabi menjawab, "Sungguh ia telah bertobat. Andai ia berbuat tujuh puluh kali seperti itu, niscaya diampunkan oleh Allah. Ia telah bertobat yang sebesar-besarnya, dan ia pasti diterima meskipun dosanya besar."


Hadits di atas menujukkan pentingnya bertobat bagi tiap anak Adam yang melakukan kesalahan, (QS. 4 : 17-18 dan 66 : 8). Bahkan para ulama mengatakan, bertobat hukumnya wajib bagi orang berdosa.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Nabi berkata, "Sesungguhnya Allah senantiasa membuka tangan-Nya pada malam ahri agar orang yang melakukan kesalahan di siang hari mau betobat, dan juga membuka tangan-Nya pada siang hari agar yang melakukan kesalahan pada malam hari mau bertobat. Ini terus berlangsung hingga matahari terbit dari barat." Nabi sendiri sebagai uutusan Allah mengakui, "Wahai sekalian manusia, bertobat dan memohon ampunlah kalian kepada Allah, karena aku sendiri setiap hari bertobat sebanyak seratus kali," (HR Muslim). Dari segi bahasa, tobat berasal dari kata taaba, yatuubu, yang artinya kembali. Jadi tobat adalah kembali dari kegelapan menuju jalan yang terang dan lurus, atau kembali dari sesuatu yang tercela (menurut syara') menuju sesuatu yang terpuji.

An-Nawawi dalam Riyadush Sholihin dalam bab tobat membagi tobat manjadi dua bagian. Pertama, untuk dosa yang dilakukan antara hamba dengan Tuhannya, dan tidak berhubungan dengan manusia, (QS 42 : 45). Ini ada tiga syarat, yaitu berhenti dari kemaksiatan yang diperbuat, menyesali dan tidak mengulangi selamanya. Bila salah satu syarat ini tidak terpenuhi, tobatnya tidak benar. Kedua, untuk dosa yang berkaitan dengan hak manusia. Syaratnya da empat, yaitu tiga syarat pertama di atas ditambah dengan satu syarat yaitu membersihkan diri hak pemiliknya. Misalnya, kalau kita  memfitnah seseorang maka kita harus meminta maaf kepadanya.

Sedang Abullaits Assamarqandi dalam Tanbihul Ghafilin menyebutkan bahwa kalau kita bertobat  hendaknya disertai penyesalan dalam hati, istighfar dengan lidah, dan tidak akan mengulangi lagi selamanya. "Istighfar dengan mulut sedang ia tetap berbuat dosa bagaikan memainkan Tuhan," kata Nabi.

Seorang sufi pernah ditanya oleh muridnya, "Apakah ada tanda bahwa tobat itu teleh diterima?". Jawabnya,"Ya, ada empat tanda. Pertama, putus hubungan dengan kawa-kawannya yang tidak baik dan bersahabat dengan orang-orang soleh. Kedua, menghentikan semua maksiat dan rajin melakukan perintah Allah. Ketiga, hilang dari hatinya rasa kesenangan pada dunia dan selalu ingat kesusahan akhirat. Keempat, percaya pada jaminan Allah dalam soal rezeki, lalu sibuk mengerjakan perintah Allah. Maka apabila ia memenuhi empat tanda itu, ia termasuk orang yang dicintai oleh Allah." (Idris Thaha)


sumber : Republika

Berpikir

Tahukah Anda, mengapa hanya sedikit perusahaan yang dapat menerangkan dengan jelas etika perusahaannya, seperti: profesionalitas, independensi, transparansi, kejujuran, dan loyalitas, serta mengoperasikan perusahaannya menurut etika tersebut?" 

Tanya doktor filsafat berambut pirang itu dengan serius. Para peserta forum pelatihan singkat hak asasi manusia (HAM) itu tercekat. Suasana musim gugur khas Australia di luar jendela membuat suasana semakin pucat. 

Simon Longstaff, sang filsuf itu, lalu menjawab sendiri, "Karena kebanyakan pemimpin dan karyawan perusahaan bekerja hanya untuk bekerja, tetapi tidak berpikir." Dan wajah para peserta pun terlongong. Tidak berpikir? Bukankah ketika seorang manusia baru bangun tidur pun, ia sudah segera mulai memikirkan, terlambat shalatkah ia atau akan sarapan apa ia pagi itu? 

"Anda mengerti maksud saya?" tanyanya kurang yakin. Ia lalu memberi isyarat kepada saya, yang kebetulan ditugaskan mendampinginya, untuk menerjemahkan paparannya, "Tidak berpikir artinya tidak pernah bertanya, di mana dirinya, mengapa ia ada di posisi itu, ke mana ia akan membawa dan dibawa oleh posisi itu, dan sudah tepatkah dia bertindak selama itu. Tidak berpikir, artinya tidak pernah bersikap kritis." 

Usai kelas, saya jadi teringat pada suatu peristiwa yang baru saja terjadi, di salah satu perguruan tinggi di Australia juga. Ketika itu, seorang mahasiswa pascasarjana yang baru mengusaikan kuliahnya terkejut menerima surat invitasi wisudanya, karena dalam wisuda itu ternyata ia dinyatakan akan memperoleh penghargaan tertinggi. 

Risetnya memang bagus dan ia menyelesaikan studinya dalam jangka waktu yang lebih cepat dari normal. Tetapi kemudian, ia menyadari bahwa sesungguhnya tidak semua nilainya A. Padahal, syarat penghargaan tertinggi itu semua nilai harus A. 

Ia ingin mengonfirmasi penghargaan yang akan diterimanya itu, tetapi hampir tak ada yang mendukungnya. Mengapa keberuntungan harus dipertanyakan lagi, sehingga membuka kemungkinan penghargaan, yang tentu menjadi impian semua mahasiswa itu, terbang kembali dari tangannya? 

Tetapi, ia begitu gelisah, hingga diangkatnya juga gagang telepon, "Saya akan sangat bergembira menerima penghargaan itu. Tetapi, mohon diperiksa lagi, layakkah saya?" Dan jawabannya memang adalah kebenaran yang melukai, "Kami sungguh mohon maaf telah menempatkanmu pada peringkat pertama." 

Saya tahu ia begitu limbung setelah itu. Hampir saja ia mendapatkan penghargaan tertinggi itu, tanpa seorang pun perlu tahu apakah itu keberuntungan atau keteledoran. 

Puluhan orang lain di tanah airnya, Indonesia, bahkan rela membayar beberapa juta hanya untuk mendapatkan gelar master atau doktor tanpa harus bermalam di perpustakaan dan menangis kecapaian selama berbulan-bulan seperti dirinya. 

Dan dia, apa yang dicarinya dengan melepaskan sebuah gelar impiannya hanya bagi sebuah nilai, yang mungkin, hanya kesunyian yang tahu? 

Dengan mata basah, ia berjalan menembus malam, sendirian. Konon, hati nurani memang bukan untuk didefinisikan, tetapi untuk diikuti. Tetapi, hanya kesunyian yang memahami. 

"Hati nurani itu apa? Saya tidak tahu artinya. Yang saya pahami kini hanya, bahwa hati nurani selalu tidak mengizinkan seseorang untuk terlalu gembira. Tetapi juga, adalah hati nurani yang selalu menjadi harga terakhir, ketika ia tengah tersungkur pada titik terbawah kelemahan dirinya." 

Ketika itu, tampaknya ia memang sedang berpikir. Berpikir seperti itu, yang adalah mendayagunakan seluruh kekuatan akalnya, ternyata memang tidak sederhana. 

Semoga kita selalu di ridhoi ALLAH SWT, amin... (MIranda Risang AYu)


sumber : Republika

Bermegah-megah

Bermegah-megah telah melalaikan kamu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur. Jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan jangan begitu, kelak kamu akan mengetahui. Jangan begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim. Dan sesungguhnya kamu akan melihatnya dengan ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia). (QS At-Takatsur)

Empat belas abad yang lalu di sebuah kota yang sekarang disebut Madinah, dua buah kelompok massa, Bani Harits dan Bani Haritsah, saling unjuk kekuatan untuk menentukan siapa yang paling hebat dan pantas memperoleh supremasi dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik.

Perseteruan mereka sudah sedemikian memuncak, sampai-sampai untuk membuktikan bahwa merekalah kelompok dengan pendukung terbanyak, mereka pergi ke kuburan untuk menghitung anggota mereka yang sudah mati dan memasukkannya ke dalam kalkulasi. "Alhakum at-takatsur" (Kalian telah dilalaikan oleh bermegah-megahan). Demikian komentar Alquran tentang peristiwa itu. Alquran berkali-kali menegaskan agar manusia tidak terjebak dalam perbuatan tersebut, dan mengancam pelakunya dengan neraka.

Dalam pandangan Alquran peristiwa seperti itu adalah peristiwa yang patut disesalkan karena dapat menyulut kebencian, dendam, dan pertikaian horizontal, serta merupakan biang kehancuran umat manusia. Peristiwa tersebut sengaja diabadikan dalam Alquran karena sifatnya yang universal. Bisa terjadi kapan pun, di manapun dan oleh siapa pun. Bahkan bisa saja terjadi saat ini, di sini, di negeri ini, dan bisa jadi pelakunya adalah kita sendiri.

Tapi benarkah penyakit at-takatsur itu sedang berjangkit di negeri ini? Kita berharap mudah-mudahan saja tidak. Hanya saja seandainya benar, maka tanyakanlah pada diri kita sendiri, kapan akan berhenti? Apakah kita baru akan berhenti setelah kita mati sebagaimana yang disindir Alquran, ataukah kita akan menghentikannya saat ini juga, sebelum bangsa ini hancur-lebur karena rakyat dan terutama pemimpinnya terkena penyakit at-takatsur, yakni sering unjuk gigi, tapi tidak mempunyai hasil kerja yang berarti. (Dadang Darmawan)

sumber : Republika

Berlomba Dalam Kebaikan

Diriwayatkan dari Ubadah bin Shamit RA bahwa pada suatu hari menjelang bulan Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda, ''Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Pada bulan itu Allah akan mengampuni kamu, lalu rahmat diturunkan, kesalahan-kesalahan dihapuskan, dan pada bulan itu pula doa-doa dikabulkan; dan Allah akan melihat perlombaan kalian menuju kebaikan pada bulan itu dan membangga-banggakannya kepada malaikat-Nya. Maka, tunjukkanlah kepada Allah kebaikan-kebaikanmu. Sesungguhnya celakalah orang yang pada bulan itu terhalang untuk mendapatkan rahmat Allah.'' (HR Thabrani)

Bulan Ramadhan adalah bulan ketika setiap orang berlomba untuk berbuat kebaikan dari semua segi. Pada saat itu, fakir miskin merasakan kedekatannya dengan orang yang berlebih, setiap orang berlomba-lomba membaca Alquran, saling berlomba dalam berbuat baik kepada lainnya, dan banyak lainnya, karena semua mengetahui bahwasanya pahala yang didapatkan pada bulan penuh berkah ini berlipat ganda balasannya.

Dalam kesempatan bulan ini pula, Allah menjanjikan akan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya. Dalam suatu hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, ''Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak: Orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang teraniaya. Allah mengangkat doa itu di atas awan dan dibukakan untuknya pintu-pintu langit dan Allah berfirman, 'Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menolong kamu walaupun pada suatu saat nanti'.'' (HR Ahmad)

Rasulullah SAW bersabda bahwa jika seorang Muslim berdoa memohon sesuatu kepada Allah, dengan syarat dia tidak berdoa untuk memutuskan silaturahmi dengan saudaranya atau meminta perbuatan dosa, pasti ia akan menerima salah satu dari tiga kemungkinan: Pertama, ia akan langsung mendapatkan apa yang dimintanya. Kedua, jika tidak, Allah akan menggantinya dengan cara menghindarkannya dari bala bencana yang akan menimpanya; atau ketiga, Allah akan menyimpan pahalanya tersebut di akhirat.

Manusia sangat menyukai sesuatu hal yang instan, yang langsung jadi tanpa banyak proses. Sehingga, dari sinilah ada sebagian mereka yang meragukan kekuatan doa.

Dalam suatu riwayat hadis, Rasulullah SAW bersabda, ''Banyak orang yang berada dalam kesusahan dalan hidupnya, kemudian ia mengangkat tangannya ke langit sambil berdoa dan menangis, 'Ya Rabb, ya Rabb', tetapi makanan yang dimakannya haram, air yang diminumnya haram, dan pakaiannya haram. Maka jika ia dalam keadaan seperti itu, bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?''

Bulan Ramadhan adalah bulan berlomba dalam kebaikan, bulan tobat kita diterima, dan juga bulan penuh doa dan berkah. Maka, sayang sekali bila kita melewatkan semuanya ini dengan sesuatu yang sia-sia. Wallahu a'lam bishhawab. (Sari Narulita)


sumber : Republika

Berjuang Sejak Muda

Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh seorang sahabat, ''Kapankah sedekah yang paling utama itu?'' Beliau menjawab, ''Engkau bersedekah pada waktu muda sehat, berkeinginan untuk kaya, dan takut miskin.''

Ada semacam kecenderungan di kalangan sebagian masyarakat untuk menangguhkan kegiatan perjuangan hanya menjelang masa pensiun dari berbagai macam aktivitas atau menjelang usia lanjut. Seolah-olah keberagamaan itu teraktualisasikan pada saat energi untuk menguasai kehidupan telah hampir terkuras habis. Keterlibatan dalam perjuangan mensyiarkan Islam hanyalah diletakkan pada usia dan tenaga sisa.

Banyak contoh dalam realitas kehidupan, seseorang ketika memiliki jabatan, harta, maupun kedudukan, sangat jauh dari nilai-nilai agama. Bahkan, cenderung menentang kegiatan-kegiatan keagamaan. Namun, ketika usia menjelang senja, orang tersebut mulai kelihatan aktif terlibat dalam kegiatan keislaman. Tentu saja hal ini tidaklah salah, apalagi jika dibandingkan dengan sama sekali tidak sadar.

Akan tetapi, jika memperhatikan hadis di atas, ibadah dan berjuang yang paling utama itu justru dilakukan pada saat usia muda yang enerjik dan penuh vitalitas, ketika keinginan untuk mendapatkan yang terbaik dan terbanyak begitu mendominasi. Sedekah, sebagai contoh, dikeluarkan pada saat memiliki angan-angan dan cita-cita menjadi orang kaya, serta takut miskin, sehingga segala sesuatunya diperhitungkan dengan teliti. Demikian pula dengan tobat, yang terbaik adalah dilakukan oleh anak muda yang relatif sedikit dosa dan kesalahannya, atau jika melakukan kesalahan dianggap wajar oleh masyarakat.

Dalam sebuah hadis riwayat Imam Dailami dari Umar, Rasulullah SAW bersabda, ''Tobat itu sangat baik, akan tetapi jika dilakukan oleh anak muda jauh lebih baik ....'' Karena itu, balasan dari Allah SWT bagi anak muda yang mengisi masa mudanya dengan kegiatan yang bermanfaat sangat luar biasa, yaitu kelak di Padang Makhsyar akan mendapatkan naungan-Nya pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. 

Anak muda ini akan dipersamakan dengan enam golongan lainnya, seperti pemimpin yang adil, orang yang hatinya selalu terkait dengan masjid, orang yang saling mencintai karena Allah, orang yang suka bangun malam lalu berzikir kepada Allah mengingat segala dosanya hingga mengalir air matanya, orang yang suka berinfak yang disembunyikan sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang dilakukan oleh tangan kirinya, dan laki-laki yang menolak diajak perbuatan zina oleh wanita cantik dan memiliki kedudukan. Hal ini sebagaimana dinyatakan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim.

Jika masa muda diisi dengan hal-hal yang positif dan bermanfaat serta penuh dengan nilai-nilai perjuangan, mudah-mudahan sepanjang hayatnya akan menjadi orang yang istiqamah dalam kebaikan. Dan itulah makna kehidupan yang sesungguhnya bagi orang yang beriman. Wallahu a'lam bis-shawab. (KH Didin Hafidhuddin) 

sumber : republika 

Berjiwa Besar

''Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa'' (QS Al-Hujurat: 49) 

Betapa banyak pribadi yang besar dalam sejarah tetapi yang berjiwa besar sungguh sangat langka. Pribadi tersebut mampu mengalahkan diri sendiri dan mengesampingkan egonya demi kepentingan umat yang jauh lebih besar. 

Di antara butiran mutiara itulah Khalid bin Walid ada di barisan terdepan. Satu riwayat yang menyebutkan tentang pemilihan Khalifah yang kedua yaitu Umar Bin Khattab, setelah Khalifah Abu Bakar Ash Shiddiq meninggal. Padahal, pada saat yang bersamaan sedang terjadi peperangan melawan Romawi yang dikomandani Khalid bin Walid. Sebelum Umar menjadi Khalifah, beliau telah berpendapat bahwa posisi Khalid harus diganti karena beliau mengkhawatirkan umat Islam terjatuh dalam kebinasaan, yaitu mereka berperang karena Khalid bukan karena Allah. 

Dan benar, setelah beliau diangkat menjadi Khalifah maka perintah pun dikeluarkan untuk mengganti Sang Jenderal. Maka diutuslah Abu Ubaidah untuk menggantikan jabatan Panglima Perang. Dalam sekejap khalid berubah dari seorang Panglima yang memiliki kekuasaan menjadi seorang tentara biasa. 

Dan sungguh mengagumkan, Khalid dapat menguasai naluri kekuasaan yang ada padanya (hubbus siyadah) dan tidak menjadikan dukungan tentara kepadanya sebagai alat untuk mempertahankan jabatannya. Bahkan dia tetap berperang di bawah komando baru dan menaati segala perintah atasannya. Ketika dia ditanya tentang sikapnya itu maka keluarlah pernyataan yang indah dan akan selalu dikenang sepanjang masa: ''Aku berperang bukan karena Umar tetapi demi Tuhan Umar.'' 

Demikianlah kebesaran jiwa Khalid bin Walid, beliau mampu menahan diri sehingga ummat tidak menjadi korban. Tentu akan lain hasilnya apabila Khalid protes atas pemberhentian dirinya sebagai panglima kemudian memobilisasi pendukungnya demi jabatan itu, pasti akan terjadi kekacauan dan umat akan terpecah belah. Mereka bisa saja akan berkelahi di dalam barisan dan pastilah musuh akan dengan mudah mengalahkan mereka, dan penaklukan Romawi mungkin hanya ada dalam angan-angan. Sungguh, kebesaran jiwamu wahai Khalid perlu dijadikan teladan pemimpin masa kini. (Mahbubah Aseri)

sumber : Republika 

Berhentilah Berbohong

Rasulullah SAW ditanya oleh seorang sahabat; "Mungkinkah seorang mukmin itu pengecut?" "Mungkin," jawab Rasulullah. "Mungkinkah seorang mukmin itu bakhil (kikir)?" "Mungkin," jawab Rasulullah. "Mungkinkah seorang mukmin itu pembohong?" Rasulullah menjawab, "Tidak!"

Ulama besar dari Universitas al-Azhar Kairo, Sayid Sabiq (almarhum) ketika menukilkan hadis ini dalam bukunya Islamuna menjelaskan bahwa iman dan kebiasaan bohong tidak bisa berkumpul dalam hati seorang mukmin.

Rasulullah SAW berwasiat agar umat Islam memiliki sifat jujur, dan menjauhi sifat pembohong. Islam tidak akan tumbuh dan berdiri kokoh dalam pribadi yang tidak jujur. 

Kita baca sejarah pribadi besar Nabi Muhammad SAW, selama 40 tahun beliau menjadi pribadi yang jujur lebih dulu, hingga digelari al-Amin, baru kemudian diangkat menjadi utusan Allah untuk mengajarkan Islam kepada umat manusia.

Sabda Rasulullah SAW; "Berpegang teguhlah dengan kebiasaan berkata benar. Sesungguhnya berkata benar mengantarkan kepada kebaikan, dan kebaikan akan mengantarkan ke surga. 

Seseorang yang selalu berkata benar, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai orang yang benar. Dan jauhilah kebohongan. Sesungguhnya kebohongan mengantarkan kepada kejahatan, dan kejahatan mengantarkan ke neraka. Seseorang yang biasa berbohong, maka ia akan ditulis di sisi Allah sebagai pembohong." (HR Bukhari dan Muslim).

Bohong dalam ucapan, kesaksian, pemberitaan, dan sebagainya merupakan salah satu tanda-tanda kemunafikan. Islam memandang kebohongan adalah induk dari berbagai dosa. Kebohongan akan menambah kerawanan-kerawanan dalam masyarakat.

Krisis multi-dimensional yang melanda negara kita muaranya adalah krisis akhlak. Salah satu bentuk krisis akhlak yang berdampak luas ialah krisis kejujuran. Mengamati perkembangan sosial, ekonomi, dan politik akhir-akhir ini, kita khawatir Indonesia tengah meluncur masuk kategori negara yang disebut zero trust society (menurut kategori Francis Fukuyama, 1995).

Krisis kejujuran menyuburkan praktik korupsi yang menggerogoti kehidupan kebangsaan, dari pucuk sampai ke akar, dari hulu sampai ke hilir. Karena kepandaian membohongi dan membuat lingkaran kebohongan, maka perbuatan korupsi, kolusi, suap, dan pungli makin merebak dan sulit dibuktikan. 

Kebohongan tidak jarang membuat campur-aduknya antara yang haq dan yang bathil. Sesuatu yang bathil bisa tampak seolah sebagai kebenaran karena kepandaian membuat rekayasa dan kamuflase.

Firman Allah; "Ketahuilah, laknat Allah atas orang-orang yang dusta." (QS Ali Imran: 61). Rasulullah SAW mengingatkan; "Berkata benar membawa ketenteraman, sedang berbohong menimbulkan ketidak-tenangan." 

Mari kita tegakkan kejujuran dan berhenti membohongi diri sendiri atau orang lain. Kejujuran bukan sekadar slogan dan retorika, tapi harus menjadi karakter dan kultur masyarakat. 

Perbaikan moralitas umat dan bangsa hanya dapat terwujud kalau para pemimpin dan segenap elemen bangsa konsisten dengan prinsip kejujuran. Agama menyuruh kita berlaku lurus dalam ucapan dan perbuatan.

Allah SWT mengingatkan; "Hai orang-orang beriman, takutlah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar." (QS At-Taubah: 119). (M Fuad Nasar)

sumber : Republika

Berdoa di Kala Lapang

Adalah merupakan sunatullah bahwa setiap manusia akan diberikan ujian dalam kehidupannya, baik berupa keburukan, bencana, ataupun kesenangan dan kebaikan (QS 21:35). Biasanya, manusia sangat mudah kembali dan mengingat Allah SWT ketika diuji dengan kesulitan dan bencana. Sebaliknya, manusia sering terlupa dengan Allah ketika diberikan kenikmatan dan kemudahan.

Sifat inilah yang Allah gambarkan dalam firman-Nya, ''Dan apabila manusia itu ditimpa kemudharatan, dia memohon (pertolongan) kepada Tuhannya dengan kembali kepada-Nya; kemudian apabila Tuhan memberikan nikmat-Nya  kepadanya lupalah dia akan kemudharatan yang pernah dia berdoa (kepada Allah) sebelum itu ....''(QS 39:8).

Dalam ayat yang lainnya Allah menjelaskan pula, ''Dan apabila manusia ditimpa bahaya, dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk, atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat) seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.'' (QS 10:12).

Sebagai seorang Muslim, sifat yang digambarkan pada kedua ayat di atas jelas harus dijauhi. Sifat yang harus dimiliki oleh seorang Muslim adalah harus senantiasa terkait dan ingat pada Allah dalam setiap aktivitasnya, terutama dalam waktu diberikan kelapangan hidup. Rasulullah memerintahkan dalam sabdanya, ''Barangsiapa yang menginginkan doanya terkabul pada saat sedih dan susah, maka hendaklah memperbanyak berdoa pada saat lapang.'' (HR Tirmizi dari Abu Hurairah).

Hadis di atas jelas menunjukkan bahwa berdoa di kala lapang merupakan prasyarat agar doa kita terkabul di saat sedang ditimpa kesusahan. Tegasnya, doa kita pada saat kesusahan akan sangat sulit dikabulkan Allah jika kita sendiri lalai dalam keadaan lapang. Sedikitnya ada dua hal yang dapat dilakukan agar kita tidak terlena oleh kelapangan hidup. Pertama, mengingat keadaan ketika susah. Sikap ini bertujuan agar kita tidak lupa bagaimana keadaan kita sebelumnya. Sikap ini pula yang akan mengikis sikap sombong dan akan membuat kita semakin tawadhu.

Perhatikan peringatan Allah dalam firman-Nya, ''Bermegah-megahan telah melalaikan kamu sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin. Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan 'ainul yaqin. Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.'' (QS 102:1-8).

Kedua, menyadari bahwa kelapangan hidup merupakan anugerah dan kenikmatan yang Allah berikan. Sikap seperti ini mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri semua fasilitas kelapangan tersebut. Wallahu a'lam. (Mulyana)

sumber : republika

Berdoa dalam Puasa

Nabi Muhammad SAW pernah berkata kepada para sahabatnya, "Ada tiga (kelompok) orang yang sekali-kali tidak akan ditolak doanya oleh Allah. Pertama, orang yang sedang berpuasa. Kedua, kepala negara yang adil. Ketiga, orang yang teraniaya."
Hadits Rasullullah ini menunjukkan keistimewaan berdoa dalam bulan suci Ramadhan, Nabi juga pernah menyebutkan bahwa selain bulan penuh rahmah, Ramadhan juga disebut bulan penuh maghfiroh. Sepuluh hari pertama bulan Ramadhan adalah rahmah, sepuluh hari kedua maghfiroh, dan sepuluh hari ketiga kebebasan dari api neraka. Jadi, kalu rajin berdoa dalam Ramadhan, Insya Allah kita akan meraih tujuan puasa, yakni takwa kepada Allah.

Kata doa sering disebut dalam Al-Qur'an dengan makna yang beraneka ragam. Doa, misalnya bisa berarti istighasah (memohon bantuan dan pertolongan), permintaan, percakapan, memanggil dan memuji. Lebih tegas lagi Nabi SAW berkata, "Doa itu adalah ibadah. Artinya mengabdikan diri kepada Allah." Kemudian Nabi membaca Al-Qur'an, "Tuhanmu telah berfirman : berdoalah kamu dan mintalah kamu kepada-Ku, niscaya aku menerima permintaanmu, sesungguhnya mereka yang sombong tidak mau berdoa kepada-Ku akan masuk ke dalam neraka jahanam sebagai seorang yang hina-dina."

Agar doa kita diterima Allah, kata Ja'far Ash-Shidiq dalam lentera hati. Sebaiknya kita mematuhi tata cara berdoa. Antara lain kita harus ikhlas, karena Allah mengetahui rahasia dan isi nurani kita. Pikiran kita konsentrasikan kepada siapa kita memohon. Lalu kita renungkan tentang apa yang kita mohonkan, dan kita serahkan seluruh urusan kepada Allah. Kita juga harus mempelajari jalan-jalan yang menuju keselamatan dari kehancuran, sehingga kita tidak memohon sesuatu yang bisa membwa kehancuran tapi ke keselamatan.

Kalau syarat-syarat  ini tidak terpenuhi, maka jangan berharap doa kita akan dikabulkan. Nabi SAW berkata : Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang ceroboh." Allah juga tidak akan mengabulkan doa yang  dicampuri dengan dosa dan dalam keadaan memutus silaturrahim.

Seorang sufi ditanya muridnya, "Mengapa doa kami tidak diterima Allah, padahal ia berjanji mengabulkannya?".

Sang sufi pun menjelaskan bahwa ada Tujuh sebab doamu ditolak :

1. Apa yang kamu perbuat menyebabkan Allah murka
2.Kamu mengaku sebagai hamba Allah tapi tidak patuh.
3.Kamu membaca Al-Qur'an, tapi mengabaikan perintah dan larangan-Nya.
4.Kamu mengaku umat Muhammad tapi tidak menjalankan sunnahnya.
5.Kamu mengakui bahwa dunia ini tidak berharga di sisi Allah, namun kamu merasa tenang kepadanya.
6.Kamu berkata bahwa dunia ini akan hilang, tapi berbuat seakan-akan kekal selamanya.
7.Kamu mengakui akhirat itu lebih baik dari dunia, tapi kamu tidak sunguh-sungguh dalam usaha amal akhirat, bahkan masih lebih mengutamakan dunia. (Idris Thaha)


sumber : Republika

Berbohong

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin: 65). Pada zaman Rasululullah SAW ada seorang pemuda yang gemar berzina. Kegemarannya ini sudah diketahui oleh masyarakat. Bahkan, Rasul yang mulia pun mengetahui tabiat buruk sang pemuda.

Ketika banyak orang memeluk Islam, pemuda itu juga ingin memeluk agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu. Tapi, ia khawatir jika memeluk Islam kegemarannya itu akan dilarang oleh Sang Nabi. Maka, ia pun ragu-ragu antara ingin menemui Nabi untuk menyatakan niatnya memeluk Islam atau tak usah menemuinya sama sekali. 

Namun, keinginannya untuk masuk Islam sangat kuat. Apalagi ia menyaksikan para tetangganya yang telah memeluk Islam hidup dalam ketenteraman dan kedamaian. Si pemuda pun penasaran, apalagi ketika ia mendengar dari para tetangganya itu bahwa Islam itu agama yang mudah dan tidak memberatkan. Maka, ia pun membulatkan tekadnya untuk menemui Rasulullah SAW. 

Kepada Nabi ia utarakan niatnya memeluk Islam. Dan, alangkah senangnya ia ketika mendengar sendiri dari Rasulullah bahwa beliau tidak menyinggung-nyinggung soal kegemarannya itu. Rasulullah cuma menyebut satu syarat baginya untuk bisa memeluk Islam: ''Jangan berbohong!'' ''Kalau cuma itu syarat untuk memeluk Islam, baiklah wahai Rasulullah saya bersedia masuk Islam,'' jawab si pemuda. 

Maka, dengan suka cita ia meninggalkan majelis Rasulullah untuk kembali kepada kaumnya. Di sepanjang jalan ia tak habis-habisnya bergumam, ''Islam ternyata memang gampang. Rasulullah cuma melarang saya untuk berbohong.'' 

Suatu saat si pemuda berhasrat untuk berzina. Namun, ia ragu melakukannya. ''Nanti kalau Rasulullah bertanya dari mana saya, lalu apa jawab saya? Saya pasti akan berkata seadanya. Sebab, Nabi melarang saya untuk berbohong,'' katanya dalam hati. Dan, ia pasti akan malu mengatakannya. Maka, niat untuk berzina itu pun ia tanggalkan. Begitu seterusnya, setiap kali muncul niatnya untuk berzina, maka setiap kali pula ia berhasil meredamnya. Akhirnya, ia sadar bahwa Islam melarang perbuatan zina. 

Kisah ini menarik untuk kita simak manakala kebohongan sudah menjadi konsumsi masyarakat kita sehari-hari. Praktik mark-up, impor gula ilegal, illegal logging, laporan fiktif (yang di era Orba dikenal dengan istilah laporan ABS asal bapak senang), dan KKN, merupakan bagian dari tindak kebohongan. 

Berbohong bukan saja akan mendatangkan kesengsaraan, tapi perbuatan itu percuma saja kita lakukan. Sebab, di akhirat kelak, sebagaimana disebutkan ayat di atas, panca indera kita akan mengatakan sejujurnya apa yang telah kita perbuat. Jika di dunia ini mulut kita bisa berbohong, di akhirat nanti perbuatan tercela itu tak bisa lagi kita lakukan. Sebab, saat itu mulut kita terkunci. Namun, tangan dan kaki serta anggota tubuh kita yang lainlah yang akan berbicara. Krisis multidimensi yang mendera bangsa ini akan segera berakhir manakala masyarakat dan pemerintah menjauhkan diri dari sifat bohong. Wallahu a'lam. (Rusdiono AR) 

sumber : republika 

Berbagi dengan Orang Lain

Dalam satu hadis yang diterima dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, ''Setiap datang hari yang baru, pada pagi harinya selalu turun dua malaikat ke bumi. Malaikat yang satu memohonkan kepada Allah, 'Ya Allah! Berilah tambahan rezeki bagi orang-orang yang mau berkorban membantu orang lain'.

Sedangkan malaikat yang satu lagi berseru kepada  Allah, 'Ya Allah! Biarlah habis tiada berfaedah segala kekayaan orang-orang yang tidak mau membantu sesamanya'.'' (HR Bukhari dan Muslim). Dalam Islam ada satu ajaran yang penting untuk diketahui, bahwa pada setiap kelebihan harta terdapat hak orang lain yang harus dikeluarkan. Allah berfirman, ''Dan mereka yang dalam harta kekayaannya ada bagian yang sudah ditentukan, untuk orang miskin yang meminta dan orang yang tak meminta (tapi ia butuh).'' (QS Al-Ma'arif: 24-25).

Ini menunjukkan bahwa derajat kesalehan dalam beragama tidak hanya terkait dengan pelaksanaan ibadah yang bersifat formal, tetapi ada aspek lain yang harus diperhatikan, yaitu apakah kita telah menunaikan kewajiban sosial terhadap orang lain. Perintah berinfak dan berzakat, misalnya, bertujuan untuk mendidik kita agar menjauhi sifat mementingkan diri sendiri dan sebaliknya mewujudkan semangat berbagi dengan orang lain.

Memberikan kelebihan yang kita miliki kepada orang lain yang membutuhkan amat dianjurkan dalam Islam, seperti terungkap dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa'id yang memberitakan pada suatu perjalanan Rasulullah bersabda, ''Barangsiapa mempunyai kelebihan kendaraan hendaklah memberikan kepada orang yang tidak mempunyainya.

Dan barangsiapa mempunyai kelebihan perbekalan hendaklah memberikannya kepada yang kehabisan bekal.'' Di balik ungkapan tersebut tersimpul semangat penyelenggaraan kehidupan atas dasar sinergi dan kebersamaan. Berbagi dengan orang lain merupakan bentuk nyata dari keimanan dan rasa syukur pada Ilahi. Makin banyak orang ikut merasakan nikmat yang kita peroleh, itulah wujud kesyukuran yang diberi penilaian tertinggi. Dalam ajaran Islam, semangat itu diwujudkan dalam tiga kategori amal. Ada yang bersifat imperatif, yakni kewajiban berzakat; ada yang merupakan keharusan seperti infaq fi sabilillah; ada pula yang bersifat fakultatif seperti sedekah.

Di antara ciri orang bertakwa menurut Alquran ialah gemar menginfakkan harta dalam keadaan lapang maupun dalam kesempitan. Jika dicermati lebih jauh, ketakwaan dalam agama memiliki korelasi yang sangat erat dengan akhlak sosial. Di tengah maraknya sikap individualistik dan pengagungan nilai-nilai materi pada saat ini, setiap Muslim perlu berkaca pada nasihat Rasulullah, ''Manusia yang paling dicintai Allah ialah manusia yang paling bermanfaat bagi manusia yang lain. Amal yang paling utama ialah memasukkan rasa bahagia ke dalam hati orang yang beriman, melepaskannya dari rasa lapar, membebaskannya dari kesulitan, dan membayarkan utang-utangnya.''(HR Ibnu Hajar al-Asqalani). (M Fuad Nasar)

sumber : republika

Beratnya Sebuah Amanah

Suatu ketika Khalifah 'Umar bin Khatthab RA, telah menyita seekor unta milik anak lelakinya sendiri, ketika dilihatnya unta itu berada di pasar. Beliau mengetahui benar bahwa unta itu menjadi gemuk karena digembalakan bersama-sama dengan beberapa ekor unta lain milik kaum Muslimin yang diurus oleh Baitul Maal.

Penyitaan tersebut dilakukan atas dasar alasan bahwa unta milik putera Amirul Mukminin itu, oleh penggembalanya digembalakan di suatu tempat penggembalaan yang paling baik. Hal itu oleh Khalifah 'Umar dipandang sebagai perbuatan menyalahgunakan kekuasaan negara karena unta itu bisa ditempatkan di tempat gembalaan yang paling baik disebabkan unta itu milik putra Amirul Mukminin. Karena itu beliau memerintahkan anaknya supaya segera menjual unta itu dan hanya diperbolehkan mengambil pokoknya. Sedangkan keuntungan dari penjualan tersebut diserahkan kepada Baitul Maal.

Karena tindakan hukum yang ketat itu, banyak para sahabat Rasulullah SAW, yang keberatan menerima pengangkatan sebagai pejabat negara, karena mereka paham betul bahwa jabatan tersebut memiliki konsekuensi yang sangat berat. Artinya, jabatan negara hanya layak diduduki oleh orang-orang yang memiliki kemampuan untuk melaksanakan jabatan tersebut dengan benar.

Abu Dawud meriwayatkan sebuah hadis yang berasal dari Abu Mas'ud Al-Anshariy, yang mengatakan sebagai berikut: Rasulullah SAW pernah mengangkatku sebagai petugas pengumpul zakat. Beliau berkata: "Hai Abu Mas'ud, berangkatlah, semoga pada hari kiamat kelak aku tidak akan mendapatimu datang dalam keadaan punggungmu memikul seekor unta sedekah yang meringkik-ringkik, yang kau curangi". Aku menjawab: "Jika demikian aku tidak berangkat!" Beliau menyahut: "Aku tidak memaksamu."

Demikianlah, para sahabat Rasulullah SAW telah memahami bahwa kedudukan atau jabatan pemerintahan adalah sebuah amanah yang berat. Pertanggungjawabannya tidak sebatas di dunia saja, melainkan juga di akhirat. Karena itu mereka tidak segan-segan menindak tegas orang-orang yang berbuat kecurangan, meski pelakunya berasal dari anggota keluarga mereka sendiri.

Mereka juga lebih memilih untuk tidak menjadi seorang pejabat, apabila khawatir tidak akan mampu memegang amanah kepemimpinan yang dibebankan di pundaknya. Kini orang bahkan berebut untuk meraih jabatan dan kedudukan dalam pemerintahan, dengan berbagai cara dan upaya. Hal itu dilakukan tanpa mempertimbangkan lagi amanah kepemimpinan yang harus dipertanggungkawabkannya di dunia dan akhirat kelak. Wal hasil, terjadilah banyak penyalahgunaan wewenang dan jabatan, hingga akhirnya rakyatlah yang menjadi korban. (Prela Antiqa Feminia) 

sumber : republika 

Berantas Kejahatan dengan Kebaikan

Ketika Rasulullah SAW berhasil menaklukkan Mekah pada tahun 13 H, kaum kafir Quraisy dilanda rasa takut lantaran kejahatan mereka terhadap Rasulullah dan umat Islam di masa lampau. Mereka menduga akan menerima pembalasan jahat dari umat Islam.

Ternyata Rasulullah SAW mencanangkan hari itu sebagai hari pemberian maaf. Beliau mengumumkan tiga cara untuk aman bagi kaum Quraisy Mekah, satu di antaranya adalah berlindung di rumah Abu Sofyan. Abu Sofyan sebelum itu dikenal sebagai tokoh Quraisy yang sudah amat banyak berbuat jahat kepada Rasulullah. Tokoh jahat lainnya adalah Abu Jahal dan Abu Lahab yang saat itu sudah meninggal dunia.

Selanjutnya, Rasulullah SAW mengumpulkan semua tentara Islam dalam sebuah barisan dan memanggil Abu Sofyan. Rasulullah menyatakan bahwa mulai hari itu mengangkat Abu Sofyan sebagai pimpinan tentara Islam yang sedang berbaris di depannya. Rasa takut dan kecut di dada Abu Sofyan dan kaum kafir Quraisy berubah menjadi lega dan haru kendati masih bercampur rasa malu. 

Rasulullah SAW dan umat Islam ternyata tidak membalas kejahatan kaum kafir Quraisy dengan kejahatan. Bahkan sebaliknya, Rasulullah memperlakukan mereka secara baik dan manusiawi. Memang, begitulah sebenarnya tuntunan Allah SWT. Firman-Nya: ''Tidaklah sama kejahatan dan kebaikan.

Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang baik, sehingga orang yang bermusuhan antara engkau dan dia seolah-olah teman yang setia.'' (As-Sajadah: 34).
Memang benar, perlakuan baik itu telah membuat Abu Sofyan segera menarik tangan Rasulullah SAW dan mengucapkan dua Kalimat Syahadat untuk memeluk Islam. Langkah Abu Sofyan diikuti orang-orang kafir lainnya.

Saat itulah turun surat An-Nashr: ''Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan engkau lihat manusia masuk ke dalam agama Allah (Islam) berbondong-bondong. Maka, bertasbihlah dengan memuji Tuhan engkau dan minta ampunlah. Sesungguhnya Allah itu Maha Penerima tobat.''

Dari situ terlihat bahwa Islam sangat antikejahatan. Islam mengajarkan umatnya untuk memberantas kejahatan dengan kebaikan. Sehingga, kejahatan itu tidak berlanjut dan bahkan membuahkan hubungan baik antara pelaku kejahatan dan korban kejahatan. Terbukti dengan balasan baik dari Rasulullah, Abu Sofyan memeluk Islam. Di belakang hari anak cucu Abu Sofyan menjadi pemimpin-pemimpin Islam.

Bila kejahatan diberantas dengan kejahatan, akan semakin memperbanyak kejahatan. Berlaku jahat untuk menolak kejahatan berarti praktik balas dendam atau mengambil peluang untuk berbuat jahat. Maka, antara pihak yang berbuat jahat dan pihak yang memberantas kejahatan, sama jeleknya.

Maka, sulit dipahami memberantas teroris dengan perbuatan teror. Kendati dengan dalih menumpas teroris, perbuatan teror tidak dapat dihalalkan. Teror dibalas teror berarti menggandakan kejahatan. (Nasril Zainun)

sumber : Republika 

Berani Menghadapi Tantangan

Ketika pasukan negara imperialis terbesar di dunia saat itu, Romawi Timur (Byzantium), kian mendekati Madinah, Rasulullah SAW memberangkatkan pasukan menghadangnya. Menjelang kawasan Mu'tah, tepatnya di Desa Mu'an, kaum Muslimin berhenti dua hari dua malam. Tanpa diduga, bersama aliansinya, seperti Bani Ghassan, Lakham, Juzam, dan lain-lain, Romawi menyiapkan lebih dari 200 ribu anggota pasukan bersenjata lengkap. Padahal, serdadu Islam hanya 3.000 orang. 

Sebagian dari kaum Muslimin ingin mundur karena merasa mustahil menghadapi lawan. Yang lain, mau mengabari dulu Rasulullah SAW seraya meminta tambahan pasukan. Tiba-tiba, Abdullah bin Rawwahah angkat suara, ''Saudara-saudara sekalian, demi Allah sesungguhnya yang kalian benci itulah tujuan kalian kemari, yakni mati syahid. Kita berperang melawan musuh bukanlah karena senjata lengkap dan tentara yang banyak. 

Melainkan, karena dengan agama ini Allah akan memuliakan kita. Karena itu, mari maju meraih salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau mati syahid.'' Kata-kata Abdullah menyadarkan semua pasukan. Musuh jangan dicari, tapi jika telah di depan mata, jangan sekali-kali lari. Akhirnya, pasukan Islam sukses memorak-morandakan Romawi. Gagallah maksud buruk mereka ingin memperluas jajahan, sekaligus merusak kemuliaan Islam. Barangkali, jika menunda menghadapi Romawi agar pasukan bertambah, belum tentu menang. 

Keimanan dan disiplin beramal saleh dari Abdullah dan para sahabat Rasul membuat mereka berani menghadapi tantangan, walau ternyata lebih besar dari yang diduga. Sayangnya, kita tidak begitu. Ada kecenderungan suka lari dari masalah dan gemar menunda menyelesaikan tugas, jika dirasa masalahnya berat sekali. Dirasa susah sedikit, disikapi dengan dikerjakan belakangan. Itu pun menjelang batas akhir. Beberapa kebiasan buruk misalnya, siswa dan mahasiswa baru belajar keras menjelang ujian. Atau, para pembesar yang membiarkan masalah saat masih kecil, bahkan meremehkannya. 

Namun, menjadi panik dan baru mencari pertolongan ke sana ke mari saat telah mepet, sementara energi dan dana sudah menipis. Akibatnya, kalaupun masalah terselesaikan, pengorbanannya begitu besar dibanding jika diselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Mutu kerja merosot, sementara tugas dan urusan lain terbengkalai. Meningkatkan keimanan, jumlah, dan kualitas amal saleh akan membuat berani menghadapi masalah, meski lebih berat dari sangkaan. Bagaimanapun, jika sungguh-sungguh berikhtiar dan berdoa, setiap masalah teratasi. Tiada masalah kecuali sebatas kesanggupan manusia (QS 2:286). Lari atau menunda menghadapinya justru memperbesar masalah dan memperberat dampak buruknya.(Fahmi AP Pane)

sumber : Republika 

Belajar Mencintai Orang Lain

Suatu hari ketika Rasulullah SAW duduk di antara para sahabatnya, datanglah seorang pemuda dengan agak tergesa-gesa. Sebagai seorang pemuda yang sedang bergelora, ia sering terjerumus ke hal-hal yang negatif, yaitu perbuatan zina. Ia tahu bahwa perbuatan seperti itu tidak pantas dilakukan, tetapi ia merasa sulit untuk mengatasi gelora nafsunya. Pemuda itu berkata, ''Wahai Rasulullah SAW, izinkanlah aku melakukan perbuatan zina.'' Gemparlah majelis Rasulullah SAW itu. Untuk apa pemuda itu menanyakan sesuat yang sudah jelas jawabannya, demikian kata mereka yang hadir. Bahkan tidak sedikit di antara mereka yang mencibir pertanyan pemuda itu. 

Namun, Nabi Muhammad tetap bijaksana dalam menanggapi pertanyaan pemuda itu. Rasulullah berkata kepada para sahabat, ''Suruhlah pemuda itu mendekatiku.'' Maka pemuda itu pun mendekati beliau. Setelah pemuda itu duduk di dekat beliau, maka dengan lembut Rasulullah SAW berkata kepadanya, ''Wahai anak muda, apakah kamu suka bila perzinaan itu dilakukan atas diri ibumu?'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Demikian perasaan orang lain, ia juga tidak suka bila hal itu terjadi pada diri ibunya.'' Rasulullah SAW berkata, ''Wahai anak muda, apakah kamu rela bila hal itu terjadi atas diri putrimu?

'' Ia menjawab, ''Tidak. Demi Allah, biarlah Allah menjadikan diriku sebagai tebusanmu.'' Beliau bersabda, ''Nah! Orang lain pun demikian, ia tentu tidak rela bila hal itu terjadi pada diri putrinya.'' Rasulullah SAW mengajukan pertanyaan serupa jika hal itu menimpa bibi ataupun saudara perempuannya. Pemuda itu mengemukakan jawaban yang sama. Rasulullah SAW bersabda, ''Wahai anak muda, ketahuilah bahwa tidak seorang pun yang rela terhadap perbuatan yang menodai kehormatan keluarganya.'' Kemudian beliau meletakkan tangan beliau pada pemuda tersebut seraya berkata, ''Ya Allah, ampunilah dosanya, sucikanlah hatinya, dan peliharalah kemaluannya.

'' Sesudah kejadian itu, pemuda tersebut tidak pernah lagi melakukan perbuatan yang menodai kehormatan orang lain. (HR. Ahmad). Egoisme adalah bagian dari fitrah manusia yang tidak mungkin dihilangkan, untuk itu perlu dikendalikan dengan rasa cinta terhadap sesamanya. Sebab, jika tidak, ia akan melahirkan bencana kemanusiaan. Pemerkosaan, pencurian, perampokan, pembunuhan, dan korupsi itu terjadi karena pelakunya tidak berpikir seandainya yang menjadi korban tindakannya itu adalah dirinya sendiri atau keluarganya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW bersabda, ''Salah seorang di antara kalian belum dikatakan beriman yang sebenarnya sebelum ia mencintai saudaranya (orang lain) sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari). (Muhammad Bajuri) 



sumber : republika 

Hidupkan Hati Dengan Cahaya Hikmah

Hati seseorang seperti sebatang pohon. Tumbuh, berkembang sesuai dengan perawatannya. Semakin baik ia merawat semakin baik pula hatinya. Sebaliknya, jika tidak dirawat maka hati akan layu dan mati. Kering, tandus seperti padang pasir. Keras seperti batu.
Hati sakit (maridlul qalbi), hati keras (qaswatul qalbi), hati mati (mautul qalbi) dapat berimbas pada tatanan kehidupan manusia dan lingkungan sekitar. Akan timbul ketidaknyamanan dan kerusakan lingkungan. Korupsi, kriminal, konflik. Global warming, banjir, longsor, kebakaran dan lain-lain.
Padahal Allah swt telah mengingatkan kita agar merawat bumi ini. Ia berfirman, “Dan bila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi.’ Mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan.’”(Al-Baqarah: 11).
Sombong, bohong dan kerasnya hati manusia, sampai-sampai Allah berfirman, “Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat.” (Al-Baqarah: 7). Belum lagi di akhirat di dunia saat ini, kepedihan itu sudah terasa. Korupsi, kriminal, konflik. global warming, banjir, longsor, kebakaran dan lain-lain.
Kata ganti mereka adalah orang-orang yang sakit, keras, dan mati hatinya. Tanpa terkecuali kita, banyak berbuat kerusakan. Allah mengutus rasul-Nya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Rahmat bagi alam semesta. Permasalahan ini, sudah terjawab oleh rasulullah saw dalam sabdabnya, “Duduklah bersama ulama a’milin, dan dengarkanlah hukama (ahli hikmah). Sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah seperti menghidupkan tanah yang mati dengan air hujan”.
Maknanya, hati kita harus senantiasa hidup, berdzikir kepada Allah. Menimba ilmu dan cahaya hikmah yang diwariskan kepada ulama dan hukama. Mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam.


Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/17/49825/hidupkan-hati-dengan-cahaya-hikmah/#ixzz33G0shE7D 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Berangkat Haji Karena Buntut Singkong

Ada seorang penjual gorengan bernama Sutikno yang punya kebiasaan menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Sebelum pulang ke rumah, dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering bermain di dekat tempatnya mangkal.
Tanpa terasa sudah dua puluh empat tahun Sutikno menjalani bisnis jual gorengannya tanpa ada perubahan yang berarti, masih mangkal di tempat yang sama dengan omset penjualan yang tidak berubah pula. Suatu hari datang seorang pria dengan penampilan elegan dan membawa mobil mewah berhenti di depan gerobaknya sambil bertanya,”Ada gorengan buntut singkong Bang?” “Kagak ada mas! Yang ada pisang sama singkong goreng”, balas Sutikno. “Saya kangen ama buntut singkongnya. Dulu waktu kecil dan ketika ayah saya baru meninggal tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman mengejek saya karena tidak bisa beli jajan. Saya waktu itu lalu lalang di depan gerobak abang, lalu abang memanggil saya dan memberi sepotong buntut singkong goreng,” ujar pria itu.Sutikno terperangah, dia tidak mengira sepotong buntut singkong yang biasanya dibuang, bisa membuat pria itu mendatanginya dengan keadaan yang benar-benar berbeda. “Yang saya berikan dulu itukan cuma buntut singkong. Kenapa kamu masih ingat sama saya?” tanya penjual gorengan itu penasaran. “Abang tidak sekedar memberi saya buntut singkong, tapi juga kebahagiaan,” papar pria itu. Sesuatu yang dianggap remeh, tapi baginya hal itu membuat sangat bahagia sehingga ia berjanji suatu saat akan membalas budi baik penjual gorengan itu.“Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Abang. Tapi, saya ingin memberangkatkan Abang berhaji. Semoga Abang bahagia,” ujar si pria. Penjual gorengan itu hampir-hampir tak percaya, inikah balasan dari bersedekah gorengan buntut singkong…penulis : Ippho Santosa
http://www.sp-bni.or.id/content/sedekah-buntut-singkong

Kontinyu Mengerjakan Kebaikan

Written by Ibrahim
Amalan yang paling Allah cintai bukan lah sebuah amalan yang besar, tetapi amalan yang secara kontinyu dilakukan hambaNya meskipun kecil. Allah dan Rasulnya sangat menganjurkan amalan yang dikerjakan dengan kontinyu bahkan mencela mereka yang tidak konsisten dalam mengerjakan sebuah kebaikan.
Allah berfirman.

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri" [Q.S Ar-Ra'ad : 11]
Allah juga berfirman :

"Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali" [QS An-Nahl : 92]
Dan Allah berfirman :

"Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik". [Qs Al-Hadid : 16]
Dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash berkata : Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

"Wahai Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan, dahulu ia shalat malam lalu ia tidak mengerjakannya lagi" [HR Bukhari Muslim]
Imam Nawawi (semoga Allah merahmati beliau) berkata : “Bab menjaga kebaikan”. Yaitu bahwasanya seseorang jika terbiasa mengerjakan kebaikan maka sepatutnya mengekalkannya (menjaganya). Misalnya jika ia sudah terbiasa tidak meninggalkan hal-hal yang sunnah, yaitu shalat-shalat sunnah yang mengiringi shalat-shalat wajib, maka hendaknya ia menjaga hal itu, Dan jika ia terbiasa melaksanakan shalat malam maka hendaknya ia menjaganya. Dan jika terbiasa shalat dhuha dua rakaat maka hendaknya menjaga hal itu, segala kebaikan yang ia terbiasa mengerjakannya hendaknya ia jaga.
Dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwasanya amalan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam terus menerus.
Adalah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengerjakan suatu amalan, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kontinyukan dan tidak merubahnya, yang demikian itu dikarenakan jika manusia sudah terbiasa berbuat dan mengamalkan kebaikan lalu meninggalkannya, sesungguhnya hal ini membuatnya membenci kebaikan, karena mundur sesudah maju adalah lebih jelek daripada tidak maju, maka kalau seandainya engkau belum mulai melakukan kebaikan, tentulah hal iti lebih ringan daripada engkau telah melakukannya lalu engkau tinggalkan, dan hal ini adalah sesuatu yang telah terbukti.
Allahu a'lam
- See more at: http://www.gemaislam.com/rubrik/tazkiyyatunnafs/2320-kontinyu-mengerjakan-kebaikan#sthash.DDxcCvtL.dpuf

Belajar Dusta

Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa berkata kepada anak kecil, "Mari sini, ini aku beri" 'kemudian ia tidak memberi, maka ia adalah pendusta!" Abu Daud dan Al-Baihaqi meriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a. ia berkata: Pada suatu hari, ibuku memanggilku, dan Rasulullah SAW sedang bertamu di rumah kami. 

Berkatalah ibuku, "wahai Abdullah, ke sinilah, nanti aku beri." Maka berkatalah Rasulullah SAW kepada ibuku, "Apa yang hendak engkau berikan kepadanya?" Saya hendak memberikan kurma kepadanya," kata ibuku. Rasulullah SAW berkata, "Jika engkau tidak memberikan sesuatu kepadanya, maka tertulislah engkau sebagai pendusta." 

Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari banyak orang yang telah memberi contoh dan menanamkan kebohongan kepada anak kecil. Menjanjikan membelikan permen, mobil-mobilan atau yang lainnya hanya sekadar untuk mengambil hati si kecil untuk tujuan tertentu (misalnya agar si anak berhenti menangis). 

Namun ketika tujuan tercapai, janji pada si anak tidak dipenuhi. Janji yang tidak dipenuhi inilah yang menjadikan anak kecil meniru dan mulai belajar "dusta". Anak, akan belajar tentang "amanah" dari orang yang terdekat yakni ibu-bapaknya. 

Setelah itu, ia akan belajar juga dari lingkungannya (paman, bibi, tetangga, dan seterusnya). Kelak, anak kecil akan tumbuh dewasa. Tak heran bila saat ini banyak dijumpai orang dewasa atau orangtua yang berdusta, karena di masa kecilnya telah belajar berdusta. 

Rasulullah SAW, sebelum diangkat menjadi Nabi, terkenal dengan predikat Al-Amin (yang dipercaya). Dengan sifat amanah, Rasulullah SAW berhasil dalam menjalankan tugasnya yang berat. 

Tak ada kata terlambat untuk berbenah diri. Kita harus berusaha, dimulai dari diri kita sendiri untuk mempunyai sifat amanah. Selanjutnya, tak kalah pentingnya membentuk generasi yang bisa dipercaya walaupun hanya dengan seorang anak kecil dengan cara memenuhi janji. 

Kini, kita sering menyaksikan dusta sudah demikian menjadi bagian dari kehidupan bangsa. Mari kita terbiasa untuk menjauhi tindakan dusta, dari hal-hal kecil di kehidupan sehari-hari. Insya Allah. (Istiqomah) 


sumber : republika 

 
Support : Cermat Media | Abu Izzan
Copyright © 2013. Blog Nurdin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger