085215115650

Ads

Headlines News :
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

SANDAL JEPIT ISTRIKU

Sepulang dari luar kota badanku terasa lelah. Aku mempercepat tekanan gas sepeda motor agar cepat sampai rumah. Lapar. Membayangkan istri di rumah memasak sayur kesukaan. Sayur asem.

Ketika sudah sampai rumah, langsung ku cuci tangan dan membuka tudung saji. Benar saja, ada sayur asem di atas meja dengan perkedel kentang. Namun selera makanku mendadak punah. Hanya ada rasa jengkel dan kesal yang memenuhi kepala ini.

Duh, betapa tidak dalam keadaan lapar seperti ini makanan yang tersedia tidak memuaskan lidah. Sayur asem rasanya manis bak kolak pisang, sedang perkedelnya asin enggak ketulungan.

“Ummi, Ummi, kapan kamu dapat memasak dengan benar sih…? Selalu saja begini, kalau gak keasinan, ya kemanisanlah, kepedesanlah, keasemanlah!” Aku tak bisa menahan emosi dan menggerutu.

“Sabar, abi. Rasulullah juga sabar terhadap masakan Aisyah dan Khadijah. Katanya mau kayak Rasul? “ Ucap istriku pelan.

“Iya, tapi kan Abi manusia biasa. Abi gak tahan seperti ini terus,” jawabku dengan nada tinggi.

Mendengar ucapanku bernada emosi, kulihat istriku menundukkan kepala dalam- dalam. Kalau sudah begitu, aku yakin pasti airmatanya sudah merebak.

Sepekan sudah aku keluar kota, tentu ketika pulang, benak ini penuh dengan harapan untuk menemukan ‘ Baiti Jannati’ di rumahku.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Sesampainya di rumah kepalaku malah mumet tujuh keliling. Bayangkan saja, rumahku tak ubahnya kapal pecah. Pekaian belum disetrika menggunung disana sini, piring – piring kotor berpesta pora di dapur. Melihat keadaan seperti ini, aku cuma bisa mengurut dada sambil beristighfar.

“Ummi, ummi, bagaimana Abi gak jengkel kalau keadaan rumah begini terus?” ucapku sambil menggeleng – gelengkan kepala. ” Ummi, istri shalihah itu tak hanya pandai dalam mengisi pengajian, tapi juga harus pandai dalam mengatur setiap detail rumah tangga. Harus bisa masak, nyetrika, nyuci, jahit baju, beresin rumah,” belum sempat kata – kataku habis, sudah terdengar ledakan tangis istriku yang kelihatan begitu pilu.

Ah, wanita gampang sekali untuk menangis dan menangis, batinku berkata dalam hati.

“Sudah diam Mi, gak boleh cengeng, katanya mau jadi istri shalihah? Istri shalihah itu tidak cengeng,” bujukku hati – hati setelah melihat air matanya menganak sungai di pipinya.

“Gimana ga nangis! Baru juga pulang, sudah ngomel ngomel terus. Ummi ini lagi ga bisa ngerjain apa – apa, jangankan untuk kerja, untuk jalan saja susah. Ummi kan muntah – muntah terus, ini badan rasanya gak bertenaga sama sekali,” ucap istriku diselingi isak tangis.

“Abi engga ngerasain sih gimana mualnya orang hamil muda,” ucap istriku lagi, sementara air matanya kulihat tetap merebak.

Keseokan harinya….

“Abi, siang nanti antar Ummi ngaji yah?” pinta istriku.

“Aduh, Mi! Abi kan sibuk sekali hari ini. Berangkat sendiri saja yah? “ ucapku

“Ya sudah, kalau Abi sibuk, Ummi naik angkot ajah, moga ja ga pingsan di jalan,” jawab istriku.

“Lho, kok bilangnya gitu?”

“Iya, dalam kondisi mual – mual begini kepala Ummi gampang pusing kalau mencium bau bensin. Apalagi ditambah berdesak- desakkan dalam kendaraan dengan suasana panas menyengat. Tapi, mudah – mudahan sih ga kenapa – napa,” ucap istriku lagi.

Agendaku hari ini ternyata diundur pekan depan. Kesempatan waktu luang ini kugunakan untuk menjemput istriku. Entah kenapa, hati ini tiba – tiba saja menjadi rindu padanya. Motorku sudah sampai di tempat istriku mengisi pengajian.

Di depan pintu, tampak masih banyak sepatu yang berjajar, pertanda acara belum selesai. Ku amati satu persatu sepatu – sepatu itu.

Ah, semuanya indah – indah dan kelihatan harganya begitu mahal.
Wanita memang suka yang indah – indah, sampai bentuk sepatu pun lucu – lucu, aku membatin sendiri. Tiba – tiba mataku tertuju pada sepasang sandal jepit yang diapit sepatu indah. Deg! Hati ini menjadi luruh.

Oh, bukankah itu sandal jepit istriku? Tanya hatiku. Lalu kuambil sandal jepit kumal yang tertindih beberapa sepatu indah lain. Tes! Airmataku jatuh tanpa terasa. Perih nian rasanya memerhatikan istriku. Sampai – sampai kemana ia pergi harus bersandal jepit. Sementara teman- temannya bersepatu bagus.

Maafkan aku umi, pinta hatiku. Krek! Suara pintu terdengar dibuka. Aku terkaget, lantas menyelinap ke tembok samping. Kulihat dua wanita berjalan melintas sambil menggendong bocah mungil berjilbab indah dan cerah, secerah baju dan jilbab umminya. Lalu melintas wanita – wanita yang lain.

Namun, belum kutemukan juga istriku. Aku menghitung sudah ada delapan orang yang keluar dari rumah itu, tapi istriku masih belum keluar juga. Penantianku berakhir ketika sesosok tubuh berjilbab gelap dan berkerudung hitam melintas.

Ini dia mujahidahku! Pekik hatiku. Ia berbeda dengan yang lain, ia begitu bersahaja. Kalau yang lain memakai baju berbunga cerah indah, ia hanya memakai baju warna gelap yang sudah lusuh pula warnanya. Diam – diam, hatiku kembali dirayapi perasaan berdosa karena selama ini kurang memerhatikan istri. Selama ini aku hanya banyak menuntut kepadanya.

Ya, aku baru sadar semenjak menikah, aku belum pernah membelikan sepotong baju pun untuknya. Apalagi memberi hadiah. Aku terlalu sibuk memerhatikan kekurangan – kekurangan istriku. Padahal dibalik semua itu, banyak kelebihanmu , wahai sayangku. Aku benar- benar menjadi malu pada Allah dan Rasul –Nya. Selama ini, aku terlalu sibuk mengurus orang lain sedang istriku tak pernah ku urusi.Betapa teganya diriku ini.

Padahal, Rasul telah bersabda,” Yang terbaik di antara kamu adalah yang paling baik perlakuannya terhadap istrinya.”

“Umi”, panggilku, ketika dia melintas. Lantas dia berbalik ke arahku, seakan tidak percaya atas kehadiranku. Namun, kemudian terlihat perlahan bibirnya mengembangkan senyum. Senyum bahagia.
“Abi!” bisiknya pelan dan girang. Sunguh, aku baru melihat istriku segirang ini. Ah, kenapa tidak dari dulu kulakukan menjemput istriku? Sesal hatiku.

Esoknya, aku membeli sepasang sepatu dan baju gamis (Jilbab) untuknya plus kerudung warna gelap kesukaannya. Ketika dia tau hal itu, bahagia kembali mengembang dari senyumnya.

“Alhamdulillah, jazakallahu,” ucapnya dengan suara tulus.

Ah, Maryam…, lagi – lagi kau terenyuh melihat polahmu. Lagi – lagi sesal menyerbu hatiku. Kenapa baru sekarang aku bersyukur memperoleh istri zuhud dan ‘iffah sepertimu? Kenapa baru sekarang pula kutahu betapa nikmatnya menyaksikan matamu yang berbinar – binar karena perhatianku?

Semoga aku bisa terus meneladani bagaimana Rasulullah SAW bersikap terhadap istri-istrinya.

https://www.facebook.com/wakafalquran/photos/a.158361440841287.39458.156103917733706/864678756876215/?type=1&theater

Menyalurkan Syahwat Kepada Istri

Saudaraku, Islam merupakan ajaran yang sangat memperhatikan fitrah manusia. Islam di satu sisi mendorong penganutnya untuk berlomba dalam menggapai derajat ideal seorang muttaqin namun pada sisi lain tidak mengabaikan sisi manusiawi dirinya. Tidak ada sistem kerahiban di dalam Islam dimana seseorang dituntut untuk hanya beribadah kepada Allah sepanjang waktu sehingga bilamana ia lapar, haus atau mempunyai kebutuhan manusiawi lainnya maka ia diharuskan untuk mengabaikannya alias dilarang untuk mempedulikannya apalagi memenuhinya.
Bahkan di dalam sebuah ayat Al-Qur’an Allah memberitahu kita akan hadirnya aneka syahawaat (hasrat duniawi) di dalam diri manusia. Dan hendaknya aneka syahawaat tersebut disikapi secara benar, bukan diabaikan atau dinafikan.


”Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS Ali Imran ayat 14)

Pada ayat di atas jelas Allah katakan bahwa segenap jenis hasrat duniawi tersebut merupakan kesenangan hidup di dunia bagi manusia. Namun di dalam ayat itu pula Allah mengingatkan orang-orang beriman agar selalu menyadari bahwa di sisi Allah ada tempat kembali yang lebih baik, yakni surga di akhirat kelak. Surga merupakan kenikmatan hakiki dan abadi yang Allah janjikan dan sediakan hanya bagi orang-orang yang beriman dan bertaqwa kepadaNya.


”Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS Ali Imran ayat 133)

Seorang yang beriman sangat dikondisikan oleh ajaran Islam untuk memiliki semangat berkompetisi dalam mengejar keberuntungan di akhirat. Namun itu tidak berarti bahwa ia samasekali tidak diperkenankan menikmati kesenangan duniawi. Hanya saja ia selalu perlu mengingat bahwa kesenangan dunia tidak seberapa dibandingkan dengan kesenangan di akhirat. Sehingga dalam sebuah hadits Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam menggambarkan betapa hinanya dunia ini. Betapa tidak bergunanya kebanyakan aktifitas manusia di dunia ini, kecuali beberapa jenis tertentu:


“Ketahuilah, sesungguhnya dunia ini terkutuk. Terkutuk apa-apa yang ada di dalamnya, kecuali mengingat Allah dan apa-apa yang menyertainya serta penyebar ilmu dan penuntut ilmu.” (HR Tirmidzy)

Apa-apa yang dikecualikan oleh Nabi shollallahu ’alaih wa sallam di dalam hadits di atas merupakan kegiatan di dunia yang sungguh sangat luas cakupannya. Terutama ketika Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyebut mengingat Allah dan apa-apa yang menyertainya. Sungguh, apa-apa yang menyertai mengingat Allah sangatlah luas cakupannya. Ia bisa mencakup urusan bisnis, bersosialisasi, berkeluarga, bermasyarakat, berda’wah dan berjihad di jalan Allah.

Bahkan dalam hadits lainnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam malah menyebutkan apa saja perkara yang termasuk ke dalam bentuk lain daripada dzikrullah (mengingat Allah). Dan uniknya, salah satunya ialah bercengkerama dengan keluarga. Subhanallah…! Suatu kegiatan yang barangkali kebanyakan orang (terutama para bapak yang bermental workaholic) menganggapnya sebagai menyia-nyiakan waktu saja.


“Segala sesuatu yang bukan dzikrullah maka ia termasuk perkara melalaikan atau melenakan, kecuali seorang yang latihan memanah, latihan berkuda, bercengkerama dengan keluarganya dan belajar berenang” (HR Thabrani)

Apa-apa yang seringkali dikira kebanyakan orang sebagai perbuatan menghabiskan waktu, ternyata di dalam ajaran Islam dikategorikan sebagai ibadah penghambaan kepada Allah. Coba renungkan, bukankah dengan bercengkerama bersama keluarga, berarti seorang ayah atau suami telah berupaya membangun soliditas di dalam ruang lingkup elemen masyarakat yang paling kecil? Berarti ia telah menyumbang sebuah kebaikan bagi masyarakat yaitu keharmonisan dan ketenteraman yang tentunya didambakan oleh setiap anggota masyarakat beradab. Namun tentunya hal ini harus dilakukan dengan menjaga rambu-rambunya. Di antaranya ialah tidak dilakukan berlebihan sehingga melalaikan seseorang akan tugas utamanya beribadah kepada Allah dan menegakkan kalimat Allah di muka bumi. Lalu ia harus memastikan bahwa ia terlibat dalam bercengkerama dengan keluarga miliknya bukan dengan keluarga apalagi istri milik orang lain…!

Dalam hadits di bawah ini Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam malah menyampaikan suatu pesan yang bahkan sempat membuat para sahabat dari kalangan yang kurang mampu menjadi terkejut dan keheranan. Coba perhatikan hadits berikut ini:

“Sesungguhnya di antara sahabat Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam ada yang berkata: ”Ya Rasulullah, orang-orang kaya lebih banyak mendapat pahala, mereka mengerjakan sholat sebagaimana kami mengerjakan sholat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Dan mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: “Bukankah Allah telah menjadikan bagimu sesuatu untuk bersedekah? Sesungguhnya tiap-tiap tasbih adalah sedekah, tiap-tiap takbir adalah sedekah, tiap-tiap tahmid adalah sedekah, tiap-tiap tahlil adalah sedekah, menyuruh seseorang kepada ma’ruf adalah sedekah, melarangnya dari perkara mungkar adalah sedekah dan bersetubuhnya seseorang di antara kamu dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah jika salah seorang di antara kami menyalurkan syahwatnya ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab: ”Tidakkah kamu tahu, apabila seseorang menyalurkan syahwatnya pada yang haram, dia berdosa? Demikian pula apabila disalurkannya kepada yang halal, dia mendapat pahala.” (HR Muslim)

Saudaraku, jelas sekali dari keterangan hadits di atas bagaimana Islam sangat mengakui, memahami bahkan menghargai orang yang memiliki kebutuhan fitri-manusiawi. Ia tidak saja diizinkan untuk melampiaskan hasrat syahwat kelaminnya kepada pasangan syar’inya (suami atau isterinya), namun lebih jauh lagi ia dijamin bakal memperoleh ganjaran alias pahala di sisi Allah karena melakukannya sesuai aturan Allah.

Ya Allah, jadikanlah kami hamba-hambaMu yang pandai mensyukuri nikmat Iman dan Islam yang telah Engkau anugerahkan kepada kami. Wafatkanlah kami dalam keadaan senantiasa berserah diri kepadaMu. Karuniakanlah kepada kami hidup bahagia dan abadi di surgaMu kelak bersama para Nabi, orang-orang jujur, para syuhada, orang-orang sholeh lainnya dan tentunya bersama anak-istri-orangtua-saudara kami semuanya. Amin ya Rabb.-

http://artikelmuslimah.com/menyalurkan-syahwat-kepada-istri-adalah-pahala/

Kisah Anak Sholeh

Begitu sedih dan menetes air mata melihat kesabaran ibu ini.
Kisah dibalik safari dakwah syaikh Al Kharraz hafidzahulah ta’ala di Afrika.
Ibu ini adalah seorang wanita muslimah yang buta tidak bisa melihat dan hanya bisa duduk terdiam diatas rerumputan yang bergoyang. Dan yang menyedihkan ibu ini telah ditinggal wafat oleh 11 anaknya karena penyakit dan gizi buruk disana. Tidak tersisa kecuali hanya satu anak lelaki saja.

Lihat bagaimana ibu yang lemah ini terlukai hatinya sebanyak 11 kali karena kehilangan anak-anaknya.. Ya Allah.. Tidak kuat aku membayangkannya. Aku hanya bisa teringat dengan masa laluku, ketika ibuku kehilangan diriku di keramian pasar dan ibuku hanya bisa menangis tersedu-sedu berteriak meminta tolong kepada orang-orang untuk membantunya mencari diriku.

Maka bagaimana yang dengan seorang ibu yang telah kehilangan 11 orang anaknya?

Ketika ibu ini ditanya: Bagaimana perasaan ibu ketika menahan rasa sedih selama bertahun-tahun karena seluruh anaknya wafat disebabkan kekurangan gizi dan hanya tersisa satu saja?

Sang Ibu menjawab dengan keteguhan dan kesabaran: Bahwasanya dibalik meninggalnya seluruh anak, semoga Allah meringankan keluargaku untuk melaksanakan shalat malam, beribadah, dan dzikir kepada Allah disetiap saat dan setiap waktu.

Ya Allah, kejadian ajaib dariMu di bumi Afrika yang tak bisa ku bayangkan.

Tapi tahukah antum, bagaimana Allah menggantinya? Allah memberikannya rezeki seorang anak lelaki yang sangat shalih dan berbakti kepadanya yang mana itu mencukupi dari ke 11 anak di masa tuanya.

Anak yang setiap pagi pergi ke pasar untuk membelikan makanan ibundanya. Anak yang setiap hari memasak makanan untuk ibundanya. Anak yang setiap hari tidak bisa bercanda bersama kawan demi menjaga kesehatan ibunya. Anak yang rela tidak menikah karena merawat kehidupan ibundanya. Anak yang merelakan seluruh waktunya untuk berbakti kepada orang tuanya, dan seluruh kegiatan itu malah membuat dirinya senang dan selalu tersenyum untuk ibundanya.

Dia selalu mencium dahi ibunya ketika sang ibu sudah tertidur lelap karena rasa cinta yang begitu mendalam.

Yang tak bisa kubendung dari air mata, dia selalu memasak bubur yang sangat lembut karena orang tuanya tidak bisa lagi mengunyah makanan kecuali hanya bubur saja.

Ketika sang anak ditanya: Bagaimana kamu selalu memakan bubur itu setiap hari? Tidakkah itu memuakkan?

Dia menjawab: Makanan ini tidaklah lezat bagiku. Akan tetapi jika ibu ku menyukainya entah mengapa aku juga bisa menyukai bubur tersebut.

Dialah yang menyuapi ibundanya, dialah yang menyuci tangan ibundanya, dialah yang menggendong ibundanya, dan dialah yang memijat kaki ibundanya.

Ya Allah.. Tak bisa kubayangkan ternya Engkau memberikan kekuatan bagi satu anak ini untuk melakukan seluruh perkerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh 11 orang anak.

Dan sang ibu sangat senang mendengarkan bacaan Al Quran yang dilantunkan oleh sang anak kecintaannya.

Aku hanya bisa menangis melihat video kehidupan ibu ini bersama anak kesayangannya.

-----

Akhi ukhti yang semoga dimuliakan oleh Allah, kita tidak akan mungkin selalu bersama ibu dan bapak selamanya. Bisa jadi kita duluan yang meninggalkan ibu atau ibu yang akan meninggalkan kita duluan.

Salah seorang shalih menangis terseduh-seduh di hadapan jenazah ibunya. Maka dia ditanya, “Mengapa engkau menangis wahai fulan?”

Dia menjawab, “Aku menangis bukan karena ibundaku telah wafat, namun tidaklah aku menangis kecuali karena salah satu pintu surga dari pintu-pintu surga telah ditutup untukku”.

Ya Allah, kumpulkan kami bersama ayah dan ibunda kami di SurgaMu Firdaus Al A’laa.. Amiin

Penulis: Muhammad Abdurrahman Al Amiry

Artikel: alamiry.net (Kajian Al Amiry)

Rahasia Rumput Tetangga Lebih Hijau.

Sobat, anda pernah melihat wanita yang aduhai cantiknya, sehingga memikat hati anda? Atau barang kali anda merasa bahwa "ladang tetangga" senantiasa nampak lebih hijau nan menyegarkan dibanding "ladang anda "sendiri
Pernahkah anda berpikir, mengapa semua itu bisa terjadi. Ketahulah sobat! Sejatinya yang menyebabkan anda begitu tergoda dan "ladang tetangga" nampak lebih hijau dibanding " ladang " sendiri adalah nafsu birahi setan
Setan menipu pandangan anda dan menggoyang-goyang jantung anda sehingga setiap melihat "ladang tetangga" atau wanita yang tidak halal spontan jantung anda terasa berdebar debar. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

Sejatinya wanita itu adalah aurat, sehingga setiap kali mereka keluar dari rumahnya, maka setan pasti mengesankan mereka nampak begitu cantik rupawan. Ahmad
Inilah yang terjadi, jantung anda berdebar-debar karena sedang digoyang goyang oleh setan sehingga darah anda mengalir dengan deras dan nafsu andapun bangkit.
Segera baca ta'awuz (memohon perlindungan kepada Allah) dari godaan setan dan segera palingkan pandangan anda setiap melihat wanita yang tidak halal, agar setan tidak terus menggoyang goyang jantung anda.

Dan kalau sudah menikah, segera pulang karena istri anda memiliki semua yang dimiliki oleh wanita yang anda anggap aduhai tersebut. Bahkan bisa jadi istri anda lebih spesial dibanding wanita tersebut.
Bila engkau melihat seorang wanita yang menjadikanmu tertegun kagum maka segeralah engkau pulang menjumpai istrimu dan lampiaskanlah hasratmu padanya, karena semua yang ada pada wanita tersebut ada pula pada istrimu. (Ibnu Hibban dan lainnya)
SukaSuka ·  · Bagikan

https://www.facebook.com/aguswijaya.su?fref=nf

Kisah Penyesalan Istri Enggan Layani Malam Terakhir Suami

Kisah ini terjadi di Malaysia beberapa tahun yang lalu. Namun penyesalan berkepanjangan terus mengikuti sang istri.

Berikut ini kisah lengkapnya seperti diterjemahkan secara bebas dari laman fitrihadi.com :

Sebenarnya kami adalah pasangan yang romantis. Bahkan, teman-teman sering memperbincangkan keharmonisan kami. Meskipun bekerja, aku tetap melayani suami dan mengurus anak-anak dengan baik. Aku bersyukur suami memahamiku dengan baik. Ini membuat aku semakin sayang kepadanya.

Sementara suamiku, di tengah kesibukannya, ia juga selalu membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik. Ia juga sering mengimamiku shalat. Aku bahagia dengan hubungan kami.

Hari itu, Senin. Aku ingat betul. Aku pergi ke kantor pagi-pagi karena banyak urusan yang harus aku selesaikan. Termasuk janji bertemu dengan sejumlah klien. Biasanya jam 6 petang aku sudah berada di rumah, hampir bersamaan dengan azan Maghrib berkumandang. Aku lihat suamiku telah bersiap-siap untuk shalat Maghrib. Pun anak-anak telah tampil rapi, mereka sudah mandi dan tampak riang bersama ayahnya. Aku lihat suamiku sangat bahagia bersama anak-anak petang itu.

Ba’da Maghrib, kami keluar ke sebuah restoran. Jaraknya sekira 5 kilometer dari rumah. Sepanjang perjalanan kami bergurau, ngobrol ke sana kemari, disertai tawa yang kadang-kadang lepas.

Aku merasakan kegembiraan suamiku petang itu lain dari biasanya. Cara bercandanya, cara tersenyum dan tertawanya… Dalam hati aku hanya bisa bersyukur dan berbahagia.

“Sudah jam 12.30 tengah malam, Bang. Ayo pulang,” kataku setelah melihat jam tangan. Tak terasa sudah larut. Tanpa banyak bicara, suamiku pergi ke kasir.

Kami tiba di rumah dua puluh menit kemudian. Anak-anak kami yang jumlahnya tiga orang segera masuk rumah dan tidur. Usia si bungsu baru tujuh tahun, sedangkan si sulung berusia 12 tahun.

Aku juga mulai mengantuk. Maklum, di jam segini dan setelah perut terisi dengan makanan lezat restoran tadi, bawaannya ingin langsung tidur saja. Di saat seperti itu suami membelai rambutku, ia menginginkan sesuatu. Tapi mataku terasa berat, aku ingin tidur.

Suami membisikiku, ini permintaan terakhirnya. Namun, aku berpikir, aku mengantuk dan dia juga mungkin kecapekan. Lebih baik besuk saja. Perlahan-lahan suami melepaskan pelukannya.

Pagi harinya, ada perasaan tak menentu. Seperti ada hal besar yang akan terjadi. Aku menelpon suami, tetapi tidak dijawab. Hingga kemudian aku dikejutkan dengan telepon dari kepolisian. Mereka mengabarkan bahwa suamiku kecelakaan dan memintaku segera datang ke rumah sakit.

Hatiku seakan pecah saat itu. Aku ke rumah sakit, tetapi segalanya telah terlambat. Suamiku menghembuskan nafas terakhirnya sebelum aku tiba di sana. Air mata menjadi saksi betapa aku sangat kehilangan dirinya.

Yang lebih kusesali, meskipun aku telah ridha dengan takdir dariNya, aku tidak memenuhi permintaan di malam terakhirnya. Hatiku dihinggapi perasaan bersalah yang luar biasa. Aku takut jika suamiku pergi menghadapNya dalam kondisi tidak ridha kepadaku. Dan aku tidak sempat meminta maaf kepadanya karena kini ia telah terbaring kaku.

Aku jadi ingat dengan hadits Nabi, “Demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang suami yang mengajak istrinya tidur bersama, lalu ditolak isterinya, maka malaikat yang di langit akan murka kepada istrinya itu hingga suami memaafkannya”.

Setiap kali teringat suami, mataku gerimis. Pipiku basah. Aku hanya bisa memohon ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi seluruh wanita muslimah di segala penjuru dunia. Jika suamimu memintamu, sepanjang kau mampu, penuhilah. Sebab engkau tak pernah tahu kapan tiba-tiba Allah mengambil suamimu. Dan semoga engkau selalu mendapatkan rahmatNya, tersebab suami yang selalu ridha padamu kapan pun juga. [Kisahikmah.com]

http://kisahikmah.com/kisah-penyesalan-istri-enggan-layani-malam-terakhir-suami/

DOSA YANG MERUSAK PERNIKAHAN

a. Suami:
1. Suami tidak berfungsi menjadi pemimpin dengan baik, akibatnya saling melukai.
2. Suami gagal menjadikan Istri nomer satu dalam hidupnya.
3. Suami membandingkan Istri dengan wanita lain.
4. Suami kurang disiplin mengontrol emosi dan kebiasaan buruk.
5. Suami gagal memuji hal-hal kecil dari Istri.
6. Suami menolak pendapat Istri.
7. Suami tidak pernah minta maaf.

b. Istri:
1. Istri tidak menghargai Suami sebagai otoritas.
2. Istri gagal menundukkan diri kepada Suami.
3. Istri gagal menampilkan kecakapan manusia batiniah.
4. Istri gagal menunjukan rasa syukur kepada Suami.

Kebutuhan seorang Suami:
1. Sex.
2. Istri sebagai sahabat.
3. Rumah yang rapi.
4. Istri yang menarik.
5. Saling menghargai.

Kebutuhan seorang Istri:
1. Kasih sayang dan penghargaan.
2. Diajak bicara.
3. Jujur dan terbuka.
4. Keuangan yang cukup.
5. Komitmen terhadap keluarga.

Ingat!
Kepala keluarga yang berhasil dalam keluarga maka keberhasilan yang lain akan mengikuti. Kepala keluarga yang gagal dalam keluarga maka kegagalan lain akan mengikuti.

Kebahagiaan perkawinan membutuhkan perjuangan yang tidak kenal lelah, dan membutuhkan kehadiran dan pertolongan Alloh.

Berbahagialah mereka yang benar-benar menikmati hidup rumah tangga yang rukun dan damai, meskipun itu harus diperoleh dengan cucuran air mata.
Belaian tangan suami adalah emas bagi istri.
Senyum manis sang istri adalah permata bagi suami.
Kesetiaan suami adalah mahkota bagi istri.
Keceriaan istri adalah sabuk di pinggang suami.

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152455968410891&set=a.10150234881225891.358582.202547135890&type=1

Menjaga Kemesraan Pasangan Suami-Istri

Menikah. Jika berbicara tentang “pernikahan”, akan menjadi hal yang sangat menarik bagi setiap orang. Khususnya jiwa-jiwa yang telah haus dengan kasih sayang dan kepedulian belahan jiwanya.

Menikah adalah pertemuan dua hati yang tidak sekedar memenuhi kebutuhan biologis, tapi lebih kepada psikis. Memang, tidak bisa dipungkiri, kebutuhan biologis merupakan suatu hal yang lumrah. Tapi, yang paling penting dari esensi pernikahan adalah ketenangan jiwa.

Ketenangan jiwa yang timbul akibat kepedulian. Kepedulian kedua belah pihak yang selalu mendukung satu sama lain. Jadi, jikalau ada salah seorang yang merasa dalam kondisi buruk, maka pasangan itu bisa secara langsung memberi dukungan terhadap pasangannya itu.  Membangkitkan lagi semangat yang padam. Membangunkan lagi jiwa-jiwa yang tertidur.  Dengan adanya kepedulian dari pasangan itu, maka sang badan tak merasa hidup sia-sia.

Tak ada yang lebih penting dalam hidup berumah tangga selain penghargaan yang diberikan oleh pasangan kepada kita. Penghargaan itu tidak harus lahir dari suatu pemberian barang-barang mahal, melainkan telah cukup dengan tindakan sederhana saja.

Hal sederhana yang kadang bisa membuat pasangan merasa dihargai adalah dengan memberikan kejutan-kejutan kecil yang tak pernah diduganya. Jadi, hadiah atau kado tak hanya diberikan ketika hari-hari spesial saja. Bisa jadi, suatu ketika dia sedang berada dalam masa sulit, dan kita memberikan hal yang tak terduga. Hal-hal kecil yang dia suka, seperti bunga, mawar akan membuatnya lebih semangat dan ceria. Bunga mungkin bisa diberikan oleh suami kepada istrinya. Namun, sang istri bisa memberikan coklat kepada sang suami. Atau hal lain yang disukai oleh sang suami.

Meski hanya terlihat sederhana apa yang kita lakukan, tapi itu sangat bermakna bagi pasangan. Bahkan, hal sederhana yang kita lakukan tidak hanya sebatas memberikan suatu benda. Bisa juga dengan menuliskan suatu kata, misal “Aku sayang kamu” ke dalam kantong kemeja atau seragam kerjanya.

Nah, ketika dia bekerja dan mengambil sesuatu dari kantong itu, dia menemukan kertas bertuliskan kata-kata yang kita buat. Setelah membacanya, alangkah bahagianya dia ketika mengetahui bahwa pasangannya begitu menyayanginya.

Kesalahan yang banyak dilakukan oleh setiap pasangan adalah tidak mengungkapkan rasa sayangnya kepada orang yang dicintainya. Mereka menganggap bahwa rasa cinta itu tak perlu diungkapkan. Cukup direalisasikan dengan tindakan. Tapi meski begitu, alangkah indahnya tindakan yang melambangkan cinta itu diiringi dengan rangkaian kalimat sederhana  yang menimbulkan kemesraan di antara pasangan.

Misal, jika seorang suami pulang dari kantor, kemudian dia melihat istrinya sedang memasak untuknya. Kemudian, tiba-tiba sang suami dari belakang memeluk istrinya dan kemudian membisikkan kata-kata cinta untuk sang istri. Dipastikan, sang istri akan tersentuh. Sang istri akan merasa bahagia dengan perlakuan suaminya itu.

Hal ini terjadi jika sang suami yang memulainya. Nah, sebenarnya sang istri juga bisa mengawalinya. Jika sang suami pulang dari tempat mencari nafkah, maka sang istri bisa langsung menghampiri. Dengan wajah cerah dan tampilan yang bersih, sang istri mendekati suami. Menanyakan keadaan suami.

“Capek, ya Mas?”

Kemudian tanpa diminta, sang istri langsung memijit kaki dan pundak sang suami. Insya Allah, jika sang suami normal dan tidak punya selingkuhan, maka dia akan bahagia dengan perlakuan sang istri. Rasa penat yang ditimbulkan karena mencari uang akan berganti dengan rasa senang. Dengan demikian, dia tidak merasa sia-sia banting tulang mencari uang untuk sesuap nasi dan sebongkah berlian.

Satu hal lagi yang yang sering dilupakan oleh setiap pasangan yaitu panggilan kesayangan. Bukan suatu hal yang norak jika kita memanggil seseorang yang telah halal bagi kita dengan panggilan spesial. Bahkan, Rasulullah telah memberikan contoh kepada kita. Dan kita pun sama-sama tahu, Rasulullah panutan kita memanggil istrinya, ‘Aisyah, dengan sebutan “Ya Humaira”. Dia yang pipinya kemerah-merahan.

Begitu jugalah dengan kita. Kemesraan harus selalu dijaga. Apalagi orang yang akan kita lihat setiap hari adalah pasangan kita. Jika kita tak bisa menjaga kemesraan, alamatlah itu yang akan menimbulkan keretakan rumah tangga.

Pernah saya mendengar dari seorang dosen, katanya, mesranya hubungan suami istri hanya bertahan pada pada usia pernikahan empat tahun pertama. Sisanya, hidup rumah tangga itu hanya dijalani seperti adik-kakak. Makna “adik-kakak” yang saya tangkap seperti hidup yang biasa-biasa saja. Tidak memperlakukan pasangan sebagai seharusnya. Jika ini terjadi, alamatlah hidup berumah tangga hanya untuk menghabiskan sisa umur yang masih ada. Terlalu sangat biasa.

Tapi, bagaimanapun kehidupan berumah tangga kita nantinya, tergantung bagaimana kita menjalani dan menyikapi. Semua pilihan ada di tangan. Apakah hari-hari akan dijalani biasa-biasa saja atau akan selalu dihiasi dengan melakukan hal “kecil nan sederhana” yang menjadikannya luar biasa.



Tentang Sri Wahyuni

Pengamat pendidikan dan Guru Muda SGI DD (Sekolah Guru Indonesia) yang menginspirasi di pelosok Indonesia. Saat ini penulis ditempatkan di Kubu Raya, Kalimantan Barat



Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/06/30/53882/menjaga-kemesraan-pasangan-suami-istri/#ixzz37VGwFK6G 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/06/30/53882/menjaga-kemesraan-pasangan-suami-istri/#ixzz37VGtk7ex 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Kekeliruan Buku Pendidikan : Mengharamkan Kata Jangan

Salah seorang pendidik pernah berkata, "pintu terbesar yang paling mudah dimasuk oleh yahudi adalah yaitu dunia psikologidan dunia pendidikan.

Karena itulah, berangkat dari hal ini. Kita akan mengupas beberapa "kekeliruan" pada buku-buku pendidikan, seminar, teori pendidikan, dan lainnya.

Saking masifnya sebaran tersebut, kita juga terkadang kesulitan untuk tidak mengucapkan kata jangan pada anak-anak kita. Terasa mengganjal di benak kita karena bertentangan dengan fitrah manusia apabila dalam kondisi panik dan terjepit akan mengucapkan kata 'jangan'.

Misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan "ayo lebih baik main disini". Tentu anak kecil tak mengerti makna itu' dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.

Berbeda jika kita secara refleks katakam pada anak kita "jangan nak nanti jatuh, berbahaya..." Sang anak akan kaget dan menhentikan langkahnya.

...misalnya saja anak kita sudah akan jatuh ke dalam lubang sumur, tak mungkin dalam waktu yang sepersekian detik akan mengatakan "ayo lebih baik main disini". Anak kecil tak mengerti makna itu' dan tentu parahnya anak tak sempat berhenti dan jatuh ke dalam sumur.

Sudah menjangkiti beberapa para pendidik muslim, baik para ayah dan ibu,
yang tercuci otaknya dan melarang berkata "Jangan" pada anak.

Mari kita lihat, beberapa perkataan-perkataan 'dalam pendidikan' tentang
larangan mengucapkan kata jangan pada anak.

Diantaranya Ayah Edy, dia mengatakan pada bukunya yang berjudul 'Ayah Edy Menjawab hal. 30, "..gunakan kata-kata preventif, seperti hati-hati, berhenti, diam di tempat, atau stop.  Itu sebabnya kita sebaiknya tidak menggunakan
kata 'jangan' karena alam bawah sadar manusia tidak merespons dengan cepat kata 'jangan'.

Pada media online, detik.com, pernah menulis judul artikel 'Begini Caranya Melarang Anak Tanpa Gunakan Kata 'Tidak' atau 'Jangan', atau "...Tak usah bingung, untuk melarang anak tak melulu harus dengan kata jangan atau
tidak..."

Pada sebuah artikel lain, berjudul, "Mendidik Anak Tanpa Menggunakan Kata JANGAN” tertulis, "Kata 'jangan' akan memberikan nuansa negatif dan larangan dari kita sebagai orang tua, maka dari itu coba untuk mengganti dengan kata yang lebih positif dan berikan alasan yang dapat diterima anak..."

Nah, inilah syubhat (keraguan) yang digembar-gemborkan media sekuler dayng merujuk pada psikolog atheis dan Yahudi. Indah nampaknya, tapi di dalamnya terkandung bahaya yang kronis.

Mari kita bahas syubhat yang mereka gelontorkan. Sebelumnya, kalau kita mau teliti, mari kita tanyakan kepada mereka yang melarang kata 'jangan', apakah ini punya landasan dalam al-Qur'an dan hadits? Apakah semua ayat di
dalam al-Qur'an tidak menggunakan kata "Laa (jangan)"?

Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan".

Mereka pun mengatakan jangan terlalu sering mengatakan jangan. Sungguh mereka lupa bahwa lebih dari 500 kalimat dalam ayat Al-Qur’an menggunakan kata “jangan".

Allahu akbar, banyak sekali! Mau dikemanakan ayat-ayat kebenaran ini? Apa mau dibuang? Dan diadopsi dari teori dhoif? Kalau mereka mengatakan kata jangan bukan tindakan preventif (pencegahan), maka kita tanya, apakah Anda mengenal Luqman AL- Hakim?

Dalam Al Quran ada surat Luqman ayat 12 sampai 19. Kisah ini dibuka dengan penekanan Allah bahwa Luqman itu orang yang diberi hikmah, orang arif yang secara tersirat kita diperintahkan untuk meneladaninya (“ walaqod ataina
luqmanal hikmah….” . dst)

Apa bunyi ayat yang kemudian muncul? Ayat 13 lebih tegas menceritakan bahwa Luqman itu berkata kepada anaknya, “Wahai anakku, JANGANLAH engkau menyekutukan Allah. Sesungguhnya syirik itu termasuk dosa yang
besar”.

Inilah bentuk tindakan preventif yang ada dalam al-Qur'an. Sampai pada ayat 19, ada 4 kata “ laa ” (jangan) yang dilontarkan oleh Luqman kepada anaknya, yaitu “laa tusyrik billah”, “fa laa tuthi’humaa”, “Wa laa tusha’ir khaddaka
linnaasi”, dan “wa laa tamsyi fil ardli maraha”.

Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.

Luqman tidak perlu mengganti kata “jangan menyekutukan Allah” dengan (misalnya) “esakanlah Allah”.

Pun demikian dengan “Laa” yang lain, tidak diganti dengan kata-kata kebalikan yang bersifat anjuran.

Mengapa Luqmanul Hakim tidak menganti "jangan" dengan "diam/hati-hati"?Karena ini bimbingan Alloh.

Perkataan "jangan" itu mudah dicerna oleh anak, sebagaimana penuturan Luqman Hakim kepada anaknya. Dan perkataan jangan juga positif, tidak negatif. Ini semua bimbingan dari Alloh subhanahu wa ta'ala, bukan teori pendidikan Yahudi.

Adakah pribadi psikolog atau pakar parenting pencetus aneka teori ‘modern’ yang melebihi kemuliaan dan senioritas Luqman? Tidak ada.

Luqman bukan nabi, tetapi namanya diabadikan oleh Allah dalam Kitab suci
karena ketinggian ilmunya. Dan tidak satupun ada nama psikolog kita temukan dalam kitabullah itu.

Membuang kata “jangan” justru menjadikan anak hanya dimanja oleh pilihan yang serba benar. Ia tidak memukul teman bukan karena mengerti bahwa memukul itu terlarang dalam agama, tetapi karena lebih memilih berdamai.

Ia tidak sombong bukan karena kesombongan itu dosa, melainkan hanya karena menganggap rendah hati itu lebih aman baginya.

Dan, kelak, ia tidak berzina bukan karena takut adzab Alloh, tetapi karena menganggap bahwa menahan nafsu itu pilihan yang dianjurkan orang tuanya. Nas alulloha salaman wal afiyah.

Anak-anak hasil didikan tanpa “jangan” berisiko tidak punya “sense of syariah” dan keterikatan hukum. Mereka akan sangat tidak peduli melihat kemaksiatan bertebaran, tidak perhatian lagi dengan amar ma'ruf nahi mungkar, tidak ada lagi minat untuk mendakwahi manusia yang dalam kondisi bersalah, karena dalam hatinya berkata “itu pilihan mereka, saya tidak demikian”.

Mereka bungkam melihat penistaan agama karena otaknya berbunyi “mereka memang begitu, yang penting saya tidak melakukannya”.

Itulah sebenar-benar paham liberal, yang ‘humanis’, toleran, dan menghargai pilihan-pilihan. Jadi, yakini dan praktikkanlah teori parenting Barat itu agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi liberal.

Simpan saja AL-Qur’an di lemari paling dalam dan tunggulah suatu saat akan datang suatu pemandangan yang sama seperti kutipan kalimat di awal tulisan ini.

Astagfirulloh!
Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberi taufik kepada kita semua..

Penulis : Ummu Hanim, [adivammar/voaislam.com]

http://m.voa-islam.com/news/muslimah/2014/06/01/30691/voa-islamic-parenting-(10)kekeliruan-haramkan-kata-'janganpada-anak/

Ringan Di Ucap Berat Di Hisab

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

“Tidak mungkin lahir anak yang shalih jika orangtua tidak menshalihkan diri dulu.” Ini kalimat yang tampaknya benar, tetapi ada hal serius yang perlu kita khawatirkan.

Pertama, hendaklah kita tidak menafikan apa yang masih mungkin terjadi. Sama halnya, jangan memastikan apa-apa yang memang tidak dipastikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala.

Kedua, jika tidak ada peluang bagi manusia untuk berubah, baik di masa kecil maupun sesudah dewasa, lalu apa gunanya pendidikan dan dakwah?

Berapa banyak orang-orang shalih yang tinggi kemuliaan imannya justru lahir dari orangtua yang salah dan bahkan amat besar kemungkarannya. Bukankah Nabiyullah Ibrahim ‘alaihissalaam, bapak dari para nabi, justru lahir dari orangtua pembuat patung berhala? Bukankah kita juga mendapati di zaman kita maupun di masa silam orang-orang shalih yang juga terlahir dari keluarga yang salah? Ini semua menunjukkan bahwa harapan lahirnya anak-anak shalih dan bahkan menjadi pejuang dakwah yang paling gigih dari keluarga yang bahkan paling keras permusuhannya dengan agama kita ini, senantiasa terbuka lebar.

Ada yang berucap, kalau orangtuanya saja tidak membaca Al-Qur’an, bagaimana mungkin ia berharap anak-anaknya menjadi orang yang mencintai Al-Qur’an dan fasih membacanya? Ini sepintas benar, tetapi tidak berdasar. Banyak ‘alim dalam agama ini yang justru lahir dari keluarga yang sangat awam. Hampir-hampir tak mengenal agama ini.

Setiap kita memang harus berusaha untuk menjadi pribadi yang shalih. Dan kepada Allah Ta’ala kita berharap anak-anak yang shalih dan barakah. Kita perlu berjuang keras untuk menjadi orang yang shalih karena ketundukan kita kepada Allah Ta’ala. Bukan semata agar anak sukses, meskipun tentu saja ini sangat kita harapkan.

“Kalau orangtuanya shalih, pasti dan pasti anak-anaknya akan shalih.”

Apakah kalian mengira Nabi Nuh dan Luth ‘alaihimas salam tidak shalih? Keduanya adalah nabi. Ibadahnya sudah pasti bagus dan akhlaknya jelas terpuji. Teladan? Jangan ditanya lagi. Tetapi putra kedua Nabiyullah yang mulia itu terlepas dari iman dan jatuh pada kekafiran.

Aku nasehatkan kepada diriku sendiri yang bodoh ini, juga kepada para trainer yang amat memukau, jangan pastikan yang Allah Ta’ala tak pastikan! Jangan pula menisbikan apa-apa yang Allah Ta’ala sudah pastikan. Jika sesuatu itu dipastikan oleh Allah Ta’ala, maka tak patut kita meragukannya. Yang perlu kita pahami adalah sebab-sebab di balik buruknya keturunan dari orang-orang yang baik. Pun, baiknya keturunan dari orang buruk.

Bertawakkallah kepada Allah Ta’ala. Jangan bertawakkal kepada sebab. Sepintas sama, tapi keduanya sangat jauh berbeda. Do’a itu adalah pinta kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Kita memohon penuh harap dan takut. Adakalanya dikabulkan seketika, adakalanya ditangguhkan dan adakalanya menjadi simpanan kebaikan di akhirat. Di dunia tak dikabulkan, tetapi di akhirat menjadi kebaikan. Ini semua adalah hak mutlak Allah Ta’ala untuk menentukan. Bukan ditentukan oleh jenis ucapan do’a maupun teknik (yang belakangan berkembang). Maka bertawakkallah kepada Allah Ta’ala. Bukan kepada sebab. Apalagi yang tidak ada dasarnya dalam agama.

Teringat perkataan seseorang di sebuah majelis yang memastikan sesuatu, padahal ia tidak punya kuasa untuk itu. Miris sekali mendengarnya. Ia berkata dalam sebuah majelis tentang jodoh, “Seret jodoh, amalkan ini sekian kali, pasti jodohnya akan segera datang. Saya jamin.”

Tertegun saya mendengar perkataannya yang berani memastikan apa yang ia tidak memiliki kekuasaan untuk mengaturnya. Dan terhenyaklah saya ketika mendengar ia bercerai dari suaminya. Betapa bertentangan apa yang ia katakan dengan apa yang menimpanya. Semoga kita dijauhkan dari hal-hal yang demikian disebabkan kecerobohan kita bertutur. Di luar itu, ada masalah terkait dengan amalan yang disebut bersebab tidak jelas dasar dan tidak adanya tuntunan.

“Pengen punya anak tapi gak dapet-dapet? Amalkan ini dan ini. Pasti deh…”

Ini termasuk perkataan bathil yang melampaui batas. Ia memastikan apa yang menjadi hak prerogatif Allah Ta’ala sepenuhnya dan termasuk perkara yangghaib. Tidak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Lebih-lebih yang mengatakan sendiri tak kunjung punya anak, lalu bagaimana mungkin ia memastikannya? Tentu saja tak punya anak disebabkan Allah Ta’ala tak menganugerahinya bukanlah aib. Yang rusak adalah jika ia sendiri tak kuasa menentukan takdir atas dirinya, tetapi berani memastikan takdir atas orang lain. Na’udzubillahi mn dzaalik.

Jika ada di antara kalian yang berkata semacam itu dan Allah Ta’ala beri teguran langsung semisal perceraian, bersyukur dan bertaubatlah. Bersyukur karena Allah Ta’ala memberi peringatan. Tidak membiarkan dalam kelalaian yang bertambah-tambah. Bertaubat atas salah yang terjadi.

Sepanjang pengetahuan yang terbatas, di antara tafsir “يخرج الحي من الميت ويخرج الميت من الحي” adalah Allah Ta’ala munculkan orang-orang shalih dari para pendahulunya yang ingkar; dan sebaliknya lahirnya orang-orang ingkar dari para pendahulunya yang shalih.

Teladan saja tidak cukup. Bukankah Nabi Luth dan Nabi Nuh ‘alaihimas salaam adalah sebaik-baik teladan bagi keluarganya? Maka, kita perlu senantiasa memohon kepada Allah Ta’ala perlindungan atas anak-anak kita dan keturunan kita seluruhnya. Juga atas diri kita. Kita berdo’a sepenuh pinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dengan menjaga adab-adabnya seraya bertawakkal kepada-Nya. Bukan kepada trik berdo’a.

Kita memohon kepada Allah Ta’ala, “رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ Tuhanku, karuniailah aku (seorang) anak yang termasuk orang-orang shalih.” (QS. Ash-Shaaffaat, 37: 100).

Kita juga memohon untuk diri kita kepada Allah Ta’ala istri/suami serta keturunan yang menjadi penyejuk mata; di dunia hingga akhirat:

“رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا”

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyejuk mata (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqaan, 25: 74).

Sudahkah engkau do’akan istri dan anak-anakmu?

Kembali pada perbincangan awal. Atas setiap perkataan, takarlah adakah ia bersesuaian dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah atau menyelisihinya? Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabuLlah, yakni Al-Qur’anul Karim, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Janganlah karena ingin menunjukkan dirimu mampu memberi solusi yang pasti ampuh, lalu engkau melalaikan apa yang digariskan agama ini.

Jagalah lisanmu, wahai diriku, dan ingatkan saudaramu agar tak tergelincir pada perkataan indah yang menjerumuskan ke dalam api yang menyala. Ingatlah perkataan Rasulullah Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam:

“إِنَّ الْعَبْدَ يَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مَا يَتَبَيَّنُ فِيْهَا، يَزِلُّ بِهَا إِلَى النَّارِ أَبْعَدَ مِمَّا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالمَغْرِبِ”

“Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan satu kata yang tak ia periksa (kebenarannya sebelum berucap), maka karena satu kata tersebut dia dapat terjerumus ke dalam neraka yang lebih jauh daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari & Muslim).

Alangkah sedikit ilmu, alangkah banyak yang harus diperbincangkan. Maafkan. Semoga yang benar-benar berilmu berkenan menasehatkan.*

Twitter, @kupinang

http://www.hidayatullah.com/kolom/meminang-surga/read/2013/11/26/7474/ringan-di-ucap-berat-di-hisab.html

Hilangnya Permainan Tradisional Adalah Hilangnya Moralitas dan Karakter Anak Bangsa?

Dewasa ini, permainan tradisional mulai terkikis dengan munculnya permainan-permainan modern seperti game online, play station, nintendo, dan lain sebagainya.  Padahal, permainan-permainan  tersebut  hanya monoton dan menjenuhkan. Anak dituntut untuk mematuhi aturan di game online tersebut. Permainan itupun tidak menghasilkan efek baik bagi tubuh. Karena game online hanya menggerakkan tangan dan mata, tidak jasmani secara keseluruhan. Berbeda dengan permainan tradisional seperti gobak sodor, dakon dan petak umpet. Permainan itu menggerakkan semua anggota tubuh, sehingga badan menjadi kuat dan sehat.
Selain menyehatkan tubuh, permainan tradisional yang diciptakan nenek moyang juga mengandung banyak hikmah untuk membangun karakter dan moral anak. Sehingga dapat membentuk sang anak menjadi pandai. Baik dan cerdas dalam aspek kognitif maupun emosional. Permainan tradisional yang beraneka ragam dan merupakan khazanah budaya bangsa Indonesia harus dilestarikan dan dijaga.
Namun, kenyataan yang terjadi saat ini, orang tua sering melalaikan untuk mengajarkan permainan tradisional dan lebih mengenalkan pada game online ataupun play station. Sehingga anak merasa ketagihan. Maka dari itu, penting  juga bagi orang tua dan guru untuk memperkenalkan permainan-permainan tradional kepada anak-anak dan memberi penjelasan tentang hikmah apa yang dapat diambil serta dijadikan teladan dari permainan tersebut.
Permainan tradisioanal secara langsung atau tidak langsung akan menciptakan kepekaan terhadap semua input yang masuk pada anak. Hal ini memiliki pengaruh yang besar untuk menanamkan nilai moral dan karakter anak, serta menumbuhkembangkan potensi anak agar mampu berfikir cerdas dan bersikap baik.
Menurut Bredekamp dan Rosegrant, ada empat komponen untuk membantu anak menumbuhkembangkan potensinya, yaitu dengan kesadaran, eksplorasi, penyediaan pengalaman, dan teman sebaya. Hal ini sesuai dengan dunianya yaitu belajar sambil bermain. Permainan tradisional adalah permainan yang pertama kali dikenal di lingkungan karena telah turun temurun dari orang tua mereka atau nenek moyang.
Salah satu permainan tradisional yang menarik dan mendidik adalah Gobak Sodor. Istilah permainan Gobag Sodor ini dikenal di daerah Jawa Tengah. Gobak Sodor adalah sejenis permainan daerah di Indonesia. Cara melakukan permainan ini yaitu dengan membuat garis-garis penjagaan dengan kapur seperti lapangan bulu tangkis. Bedanya, tidak ada garis yang rangkap. Gobak sodor terdiri dari dua tim, satu tim terdiri dari tiga orang. Aturan mainnya adalah mencegat lawan agar tidak bisa lolos ke baris terakhir secara bolak-balik. Untuk menentukan siapa yang juara adalah seluruh anggota tim harus secara lengkap melakukan proses bolak-balik dalam area lapangan yang telah ditentukan.
Permainan ini sangat menarik, mendidik dan juga menyenangkan. Setiap orang harus selalu berjaga dan berlari secepat mungkin untuk meraih kemenangan. Permainan ini mengajarkan ketangkasan, kerja keras, kebersamaan, strategi yang baik dalam memilih keputusan dan mengajarkan untuk tidak mudah putus asa karena jalan yang dilalui tak hanya satu jalur tapi beberapa jalur.
Beraneka ragamnya permainan modern atau disebut game online membuat anak-anak melupakan budaya permainan tradisional yang turun temurun diwariskan oleh nenek moyang. Karena game online lebih mudah programnya, tidak membutuhkan area yang luas dan dalam menjalankanya, tidak rumit dan lebih cepat. Berbeda dengan permainan tradisional, misalnya Dakon. permainan ini membutuhkan persiapan-persiapan yang lumayan panjang. Namun di sisi lain, permainan tradisional dapat membentuk nilai-nilai moral karena banyak manfaat dari bermain itu dan dapat menumbuhkan karakter bagi si anak.
Maka dari itu, sangat penting bagi orang tua dan tenaga pendidik untuk memberikan pengenalan tentang macam-macam permainan tradisional dan bagaimana cara memainkannya, serta memasukan pesan moral di dalam permainan tradisional tersebut. Sesungguhnya, permainan tradisional tidak hanya untuk kesenangan anak, akan tetapi berguna untuk pembentukan karakternya. Melalui permainan tradisional, anak dapat mempraktekkan ketrampilan yang mengarah pada perkembangan kognitif, bahasa, psikomotorik dan fisik. Sehingga sangat perlu diperhatikan dalam memilih permainan kepada anak.
Seperti yang penulis paparkan di atas, hilangnya permainan tradisional disebabkan karena adanya permainan modern atau game online di internet yang dianggap lebih menyenangkan daripada permainan tradisional. Namun, tidak banyak dari anak bangsa ini menyadari akan reksiko yang akan didaptkan dari game modern tersebut karena sudah merasa kecanduan berat. Reksiko yang di derita bermacam-macam, berikut penulis paparkan reksiko-reksiko tersebut:
Wasir atau ambeien. Karena lamanya duduk sehingga pembulu darah tidak lancar serta mendesak pembuluh darah vena yang ada di daerah anus. Akibatnya pembuluh darah jadi menonjol dan rasanya sakit serta panas.
Mendorong perilaku negatif.  Bila sang anak sudah kecanduan game online, apapun akan dilakukan termasuk melakukan hal negatif agar bisa menikmati game online. Misalnya, seorang anak bisa bolos sekolah, menyelewengkan uang SPP, mengambil uang teman dan lain-lain, hal ini bisa juga dikatakan sebagai pemborosan uang. Jumlahnya mungkin tidak banyak, namun tetap saja hal ini sangat memprihatinkan.
Prestasi belajar menurun. Asik bermain game membuat anak sering lupa waktu. Sehingga banyak aktifitas yang seharusnya dilakukan menjadi terganggu. Misalnya shalat lima waktu, belajar, mengerjakan PR sekolah, merapikan kamar dan lain-lain. Bahkan di saat melakukan aktifitas seperti itu pun kadang-kadang pikiran mereka masih melamunkan permainan online itu. Akibatnya, prestasi belajar anak menurun.
Makan dan istirahat tidak teratur. Hampir setiap anak maniak game online pernah mengalami hal ini. Pola makan dan istirahat mereka berubah mengikuti jadwal permainan mereka. Waktu makan dan istirahat menjadi kurang teratur. Kondisi ini tentu saja rentan bagi kesehatan anak yang bersangkutan.
Sedikit menoleh pada masa kejayaan permainan tradisional di Indonesia, yang mana pada saat itu generasi muda bangsa ini yang memiliki semangat juang mempertahankan warisan nenek moyang, ketrampilan yang tinggi, solidaritas pertemanan yang terjaga, kejahatan yang sangat rendah serta moralitas yang mencerminkan norma-norma yang anggun. Hal-hal seperti itu jarang kita jumpai di masa ini. Bahkan bisa dikatakan kebalikan yang amat jauh. Masalah seperti ini penuh penanganan yang segera dan ekstra. Keikutsertaan orang tua dan pendidik serta kesadaran dari generasi muda itu sendiri sangat berpengaruh untuk merubah Indonesia menjadi lebih baik.

 Abdul Rozak Ali Maftuhin

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/06/03/52491/hilangnya-permainan-tradisional-adalah-hilangnya-moralitas-dan-karakter-anak-bangsa/#ixzz34Ne4C6Fg 
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Tidak Boleh Pacaran Nak !

Oleh : Jamil Azzaini

“ANAKKU, saat kau jatuh cinta, kau tetap tak boleh pacaran. Biarkan kau tetap terbungkus rapi dan kulit lembutmu hanya boleh disentuh oleh suamimu. Ketahuilah bila kau jatuh cinta dengan seseorang, belum tentu itu jodohmu. Maka tetap mintalah kepada yang Maha Tahu untuk diberi jodoh terbaik bagimu.

Ketahuilah, wanita yang hebat itu yang menyayangi anak-anaknya dan itu dibuktikan dengan mencarikan ayah yg tepat buat anaknya. Ayahmu ini berharap, kau termasuk di dalamnya. Anakku, apa yg kau harapkan belum tentu kau dapatkan. Ingatlah rencana Allah adalah rencana terbaik dibandingkan rencana terbaik seluruh penduduk bumi sekalipun.

Agar kau diberi “pangeran” terbaik, tugasmu hanya memantaskan diri dan minta kepada Allah. Semakin kau sering mengadu dan dekat kepada Allah maka Dia akan mengirimkan “pangeran” terbaik untukmu. Jangan ragu, Dialah yang Maha Tahu jodoh terbaikmu. Bila sebelum Subuh kau selalu menangis kepada-Nya, tak mungkin Dia tega memberi “pangeran” yang tak bermutu kepadamu. Walau kau jatuh cinta, jangan serahkan hatimu kepada lelaki itu, karena boleh jadi menurut Allah dia bukan “pangeranmu”.

Tetaplah serahkan hatimu kepada Allah dan setelah Allah kirim “pangeran” kepadamu, baru serahkan hatimu kepada “pangeran” itu. Air matamu di hadapan Allah dan kesabaranmulah yang membuat Allah mengirimkan
“pangeran” terbaik untukmu.

Bukti bahwa kau wanita hebat, kau tetap lebih sering mengingat Allah dibandingkan lelaki yang kau jatuh cintai. Bila Allah yang dihatimu, Dia akan kirimkan “pangeran” original kepadamu. Namun bila kau menjauh, Allah akan kirim pangeran KW-3 bahkan mungkin KW-10 kepadamu. Dan itu akan menyiksa hidupmu dan berkuranglah rasa banggaku kepadamu.

Anakku, lelaki yang cocok buat anak-anakmu adalah yang
berani datang menemui ayahmu untuk melamarmu dan bukan yang pandai memainkan perasaanmu. Percuma bila ada lelaki yang kau cintai tetapi dia tak punya nyali bertemu dengan ayahmu.

Saat ini ayahmu hanya bisa berdoa agar Allah mengirimkan “pangeran” terbaik untukmu. Dan semoga yang dikirim oleh Allah adalah lelaki yang telah membuat kau jatuh cinta.

Terakhir, Ingatlah selalu kebiasaan di keluarga kita: Allah dulu, Allah lagi dan Allah terus. Semoga kau menjadi kekasih Allah sehingga kau dikirimi kekasih terbaik menurut Allah dan juga menurutmu. Anakku, bapak percaya padamu dan sepenuh hati mencintaimu…” [fha/islampos/retnohastuti]

http://www.islampos.com/nasihat-seorang-ayah-untuk-anak-gadisnya-112295/

Di Balik Diamnya Pria

Lupa diri, itulah yang membuat suami kemudian lebih suka menyendiri.
Dulu, Ia mencurahkan dirinya untuk memberi kasih.
Ada saatnya ia ingin kembali ke dirinya sendiri.
Saat itu ia lebih suka berdiam diri dan semuanya ia jauhi.
Itulah gambaran ketika laki-laki memasuki periode meditasi.
Namun di akhir periode ini ia akan kembali lagi menjadi jiwa yang pemberi.

Sebagian Istri mungkin akan heran dan takut luar biasa ketika sang suami dalam keadaan seperti ini.
Namun perlu dipahami,
Ini memang salah satu dari sekian tabiat laki-laki.
Tabiat istri kemudian mendorongnya untuk mengetahui apa yang terjadi dengan suami
Ia kemudian mencoba untuk mendekati sang suami, tapi itu tidak membantu sama sekali.
Lalu sang istri ini mulai menyalahkan dirinya sendiri.

Tapi ia menemukan bahwa tidak ada perbuatannya yang menyalahi.
Ia kemudian marah kepada sang suami.
Suami sudah berubah menjadi egois.
Suami tidak memperhatikan dirinya lagi.

Bait-bait puisi ini mencerminkan perbedaan tabiat laki-laki dan perempuan. Bila laki-laki mengalami kejenuhan atau mengalami masalah yang sangat pelik. Ia akan mencoba untuk memecahkan masalah itu sendiri. Dan itu dilakukannya dengan diam. Lalu timbul pertanyaan, mengapa ia tidak mencari pertolongan dari sang istri?. Dalam dunia lelaki, laki-laki memandang dunia ini seperti perlombaan dan seperti piramida. Ia akan berjuang untuk mencapai puncak piramida.

Laki-laki akan merasa terhina ketika istri memberi nasehat akan masalah yang sebenarnya bisa dipecahkan sendiri oleh sang suami. Niat sang istri memang baik, namun ketidak pahamannya akan tabiat laki-laki membuat pertolongannya sia-sia belaka. Bila suami sudah menyerah atau ia memang membutuhkan pertolongan maka akan meminta tolong.

Sang istri lalu kemudian gelisah ketika melihat sang suami berubah menjadi diam. Mengapa ia tidak perhatian lagi dengan diriku? Mengapa pula ia tidak mau diajak bicara? Apakah ia sudah tidak lagi mencintaiku? Apakah aku sudah berbuat salah sehingga ia menjauhiku?. Pertanyaan ini lumrah muncul dari benak wanita.

Dalam tabiat perempuan, bila ia sedang dirundung suatu masalah maka ia secara alami tidak dapat memecahkan masalahnya dengan konsentrasi penuh. Perempuan itu cara berpikirnya ekspansif. Bila ada suatu masalah ia akan menghubungkannya dengan hal-hal lain yang masih bersangkut maupun yang tidak bersangkut. Hal ini membuat ia gelisah. Inilah yang membuat wanita lama bila disuruh berpikir sendiri, terlebih untuk mengambil suatu keputusan. Bisa terlihat ketika disusruh menentukan keputusan lamaran, mengambil kebijakan keuangan mendadak, dan lain sebagainya.

Itulah yang membuat perempuan secara naluriah menceritakan permasalahannya kepada orang lain. Tidak hanya hal pokok yang ia hadapi tapi semua hal yang bersangkut dengannya. Bahkan ia terkadang membicarakan sesuatu itu sampai pada detailnya. Cara ini yang terkadang tidak disukai lelaki, kebanyakan laki-laki menganggap hal ini keluhan kepadanya. Tidak sama sekali, memang begitu tabiat perempuan. Perempuan yang menceritaka permasalahannya akan dengan sendirinya menemukan ketenangan dan pemecahan dari masalahnya. Makanya kebanyakan kita melihat perempaun akan lega setelah ia menceritakan semua masalahnya. Cara yang terbaik dilakukan laki-laki adalah menanggapi dengan baik dan menjadi pendengar yang baik. Memang itu menjemukan bagi laki-laki. Tapi percayalah itu akan membuat cinta istri semakin bersemi. [Disarikan dari buku "Psikologi Suami Istri, yang ditulis oleh Dr. Thariq Kamal an-Nu'aimi, Bab 3]

Wallahu a'lam bish shawab. [Akbar Novriansyah - Yogyakarta]

http://www.bersamadakwah.com/2014/05/di-balik-diamnya-pria.html

Air Mata Istri yang Mengubah Suami

Mereka dulunya adalah aktifis dakwah, saat masih menjadi mahasiswa. Di jalan dakwah pula mereka kemudian menikah.

Kehidupan pernikahan mereka indah pada awalnya. Namun bulan-bulan yang terus berlalu hingga hitungan tahun berganti, membuat keduanya mulai berhadapan dengan problem ekonomi. Sang suami, sambil meneruskan kuliah pasca sarjana, berusaha bekerja apa saja. “Yang penting halal,” prinsipnya. Dari menjadi tukang ojek, jualan kripik, hingga jualan berbagai makanan ringan.

Beban hidup suami istri itu semakin besar saat buah hati mereka lahir. Yang menyedihkan, kos-kosan mereka jauh dari kata layak untuk hidup berkeluarga. Atapnya jebol, kamar mandinya bocor.

Setelah lulus S2, sang suami mendapatkan pekerjaan baru sebagai makelar tanah. Ia sendiri merasa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan tetap dan menjadi sebuah ironi bagi dirinya yang lulusan terbaik saat kuliah S1 dan kini menjadi Magister Fisika. Namun setidaknya, penghasilannya kini lebih besar dari sebelumnya.

Menjadi makelar, membuatnya sangat sibuk. Siang malam ia mencari pembeli. Sebelum matahari terbit ia sudah memacu motornya, dan saat larut malam baru pulang. Praktis, si kecil pun jarang bertemu dengannya.

Menjalani pekerjaan barunya, meski penghasilan lebih besar, pelan-pelan banyak kebahagiaan yang hilang. Tak bisa bercanda dengan buah hati yang sedang lucu-lucunya, juga tak banyak waktu membersamai istrinya. Yang tak kalah berat baginya, ia yang dulunya aktifis dakwah kini tak sempat berjamaah di masjid kecuali menjadi makmum masbuk. Ia tak lagi hadir di majelis-majelis tarbiyah. Bahkan tak ada lagi tahajud… Ia merasa badai futur sudah sedemikian dahsyat menghempas.

“Inikah cita-cita pernikahan itu? Ke mana bunga-bunga mimpi hidup dalam keluarga sakinah, mawaddah, warahmah?” tanyanya kepada hati kecilnya.

Hingga suatu ketika di larut malam setelah ia seharian mencari pembeli. Istri terkasih mendekapnya sangat erat. Akhwat yang dicintainya itu menangis terisak-isak. Seakan-akan ia akan pergi dan tak akan pernah kembali lagi.

“Mas… aku tidak pernah meminta uang banyak. Saya juga tidak memintamu untuk bekerja sekaras ini. Sederhana sekali pintaku, engkau kembali menjadi orang yang shaleh, dan aktif dalam dakwah” ucapnya sambil terisak tanpa melepaskan dekapannya.

Sang suami hanya bisa terdiam. Kata-kata membuatnya tak sanggup menahan air mata.

“Mas… aku ingin seperti dulu, biar susah tapi kita bisa berjalan bersama ke tempat ta’lim. Sahur senin-kamis bareng. Saling membangunkan dan mengingatkan shalat malam. Mungkin Mas tidak tahu, kenapa aku memilih Mas jadi suami? Karena tidak ada yang lebih membahagiakan daripada melihat suami yang berjalan meninggalkan rumah menuju masjid untuk shalat berjama’ah”

Malam itu menjadi malam paling bersejarah dalam kehidupan pernikahan mereka. Untaian kalimat yang diiringi air mata itu bukan hanya melelehkan air mata yang sama. Tetapi juga menjadi jalan pertaubatan bagi sang suami. Menjadi pintu kembalinya seorang ikhwan ke medan dakwah dan medan juang.

Atas izin Allah, air mata cinta telah mengubah segalanya. Mengembalikan jiwa yang futur kepada Rabbnya. Menarik kembali hati yang menjauh ke jalur orbitnya. Menghadirkan lagi ketenangan dan kedamaian yang sempat hilang sekian lama.

Cinta yang syar’i kepada suami membuat sang istri kehilangan saat sang suami jauh dari Tuhannya. Cinta mengubah rasa kehilangan menjadi kesedihan yang memuarakan air mata. Lalu air mata itu tumpah dalam keheningan malam bersama sujud-sujud yang panjang. Air mata itu juga hadir bersama kata-kata cinta yang meminta suami kembali bersamanya; dalam mendekatkan diri kepada Ilahi.

Maka untuk setiap istri, apa pun masalah suamimu dan apapun masalahmu dengan suamimu. Hadirkan cinta sebelum engkau menghadirkan perasaan lainnya. Cinta yang membuatmu berdoa mengetuk perkenanNya. Sebab Dialah yang memegang hati dan jiwa seluruh hambaNya. Dengan cinta pula, ungkapkan perasaanmu kepada belahan jiwa. Jika batu saja bisa pecah lantaran tetes-tetes air, hati suami mana yang tak tersentuh dengan air mata cinta. [Muchlisin]

*Kisah di atas berdasarkan kisah nyata Abu Fakir, salah seorang peserta KMPD BersamaDakwah asal Bandung

http://webmuslimah.com/air-mata-istri-yang-mengubah-suami/

Cara Bahagiakan Suami dalam Berjima

SEBAGAI pasangan suami-istri, Anda berdua memang sudah “pakar” dalam hal jima. Namun apakah Anda, utamanya istri, sudah 100% pasti apa yang Anda lakukan itu cukup memuaskan hati suami Anda? Seorang istri harus tahu bahwa jima suami isteri haruslah mampu memberikan kepuasan kepada pasangannya. Jika Anda merasakan bahwa Anda masih belum mampu “memuaskan” suami sepenuhnya, 12 tips yang dipaparkan ini mungkin mampu membantu Anda.

1) Berani berinisiatif

Sepertinya ketika hendak berjima, inisiatif selalu datang dari pihak suami. Sedangkan isteri hanya menunggu. Ini karena kebanyakan isteri merasa malu (tapi mau) untuk mengambil inisiatif, walaupun mereka teringin untuk melakukannya.

Sepatutnya dalam kehidupan jima suami isteri tidak boleh ada istilah malu. Isteri harus berani mengambil inisiatif sebab akan membuat suami gembira. Dan secara psikologis dapat memengaruhi suami dalam berjima.

2) Menghias Diri

Apabila ingin jima, isteri sepatutnya menghias diri. Jangan sesekali tampil ala kadar saja. Penampilan yabg baik akan menambah semangat suami dalam jima. Sebab itu, sebelum jima, mandilah terlebih dahulu, pakailah pakaian yang bersih dan menarik. Juga semprotkan sedikit wangi-wangian agar Anda harum.

3) Rapikan Kamar Tidur

Sebelum jima, rapikan tempat tidur. Bersihkan tempat tidur Anda dari kain dan pakaian yang tidak berguna. Jika sprai dan sarung bantal kotor, ganti dengan yang baru dan bersih. Jangan lupa untuk menyemprotkan sedikit wewangian agar ruang tidur terasa nyaman dan wangi. Tempat tidur yang rapi dan wangi secara psikologi akan dapat menambah semangat suami untuk jima dengan Anda.

4) Bersifat Aktif

Cumbuan adalah bumbu jima. Bercumbu tidak boleh dipandang remeh karena sama penting dengan hubungan intim itu sendiri. Dan baik suami atau isteri, kedua-duanya dituntut untuk aktif.

Sayangnya, dalam perkara ini, yang aktif selalu suami. Isteri sering bersifat pasif dan menyerah. Agar suami cukup bergairah, isteri perlu bersikap aktif melakukan ransangan di tempat-tempat sensitif.

5) Penuhi Kehendaknya

Dalam jima isteri sering menolak untuk melayani permintaan suami. Ini sering menimbulakan rasa jengkel dan marah pada suami. Sebenarnya tiada alasan mengapa isteri perlu menolak keinginan suami, kecuali dia ingin Anda melakukannya di luar syariat. Apabila apa yang diinginkan suami itu dipenuhi isteri, maka suami akan berasa gembira dan puas. Dan perasaan sayang akan semakin kuat.

BERSAMBUNG

http://www.islampos.com/12-cara-bahagiakan-suami-dalam-berjima-111292/

Arti Sebuah Kesetiaan

Pak Suyatno, Sosok Suami yang Mengagumkan
Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan.
Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.
Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi
kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat.

Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!
Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.
Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.
Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat tersenyum.
Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.
Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur.
Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.
Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil' .
Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:
“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapaklah yang telah merawat ibu dengan sangat baik dan penuh kasih sayang. Sudah lebih kurang 25 tahun Bapak merawat Ibu. Tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami yang menjaga ibu.”,Sambil air mata si sulung berlinang.
“Sudah keempat kalinya juga kami mengijinkan bapak menikah lagi, dan kami rasa ibupun akan mengijinkannya. Kapan bapak bisa menikmati masa tua bapak ?, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baiknya secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.
Pak Suyatno berdiam sejenak, menyimak perkataan anak sulungnya, dan kemudian dengan suara pelan tapi tegas Beliau berkata :
”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah… dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*…”
“ Kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ? “
“ Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang ?”
“ Kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan agar bisa dirawat oleh orang lain dengan baik, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit ?.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga oleh anak-anaknya
Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……
Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.
Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian maka itu hanyalah suatu kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan
dengan mata.”

“ Dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… maka ini merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis Pak Suyatno menggambarkan apa yang dia rasakan selama ini.
”Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA BESARNYA CINTA SAYA KEP ADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEP ADA ALLAH UNTUK MENILAINYA”.
Itulah cerita / Kisah Paling Mengharukan yang semoga dapat menjadi teladan bagi anda yang sudah menikah bahwa cinta sejati bukan memandang dari mata, tapi dari hati
Sumber Page FB : KUMPULAN CERITA PENUH HIKMAH

 
Support : Cermat Media | Abu Izzan
Copyright © 2013. Blog Nurdin - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger